Time to Make a Choise

29 Mei

Seperti alam aku mencintaimu secara alami

Angin, terbangkanlah perasaanku ini padanya

Air, lunturkan gemuruh dadaku saat bersamanya

Tanah, timbun perasaan ini sedalam-dalamnya

~:0:~

In my heart

~:0:~

Agar tidak ada yang terluka

~:0:~

Cherry Chibi presents~

Time to Make a Choise

(Breathe/Pulse)

A SooSun (yuri, exactly sho-ai) angst(?) fiction

Happy reading~

~:0:~

And this is just one of my tons failed fiction

~:0:~

“Kamu yakin?” Sunny menatap Sooyoung khawatir. Ragu menyelimuti wajahnya begitu melihat keluar jendela. Di luar sana, angin bertiup cukup kencang untuk meredupkan keberaniannya dalam rencana ini.

“Tentu saja!” Sooyoung mengangguk pasti. Dari tatapannya dia terlihat tidak suka dengan keraguan Sunny untuk melangkah keluar.

“Tidak ada waktu yang cocok lagi, Sunny honey! Selagi Mrs. Kim keluar, kita bisa kabur sekarang. Ayolah! Kita sudah menunggu saat ini sejak lama!” nada Sooyoung sedikit meninggi. Tidak sabar dengan keputusan sang kekasih, dia menarik tangan Sunny menuju pintu. Tapi, tepat sebelum tangannya menyentuh knop pintu, Sunny menghentikan langkahnya, membuat Sooyoung refleks berhenti dan menoleh.

“Aku merasa tidak enak dengan Mrs. Kim, Sooyoungie. Beliau sudah membesarkan kita sampai sebesar ini. Walau kita memang bukan anak kandung beliau, tapi aku merasa bersalah dengan semua ini. Kita saudara, …”

“Lalu, kenapa?!” Sooyoung benar-benar tak suka keadaan ini. Sunny menolak rencana di saat pelaksanaannya? Sungguh menyebalkan!

“Kita tidak sedarah. Lagipula, Mrs. Kim tak akan kehilangan kita. Dia masih punya anak angkat yang lain, Sun! Bahkan anak yang lebih baik dari kita—yang mencintai sesama saudara bahkan, sesama perempuan.” Sooyoung meremas tangan Sunny di genggamannya.

“Tapi…”

“Ayolah! Kumohon! Kita juga tersiksa di sini, kan? Harus bekerja siang malam dengan anak-anak lainnya.” Sooyoung menggigit bibir bawahnya. Menahan emosinya.

“Itu memang pantas. Kita bekerja sebagai imbalan diberi makan dan dirawat, kan? Lagipula pekerjaan kita mudah. Hanya menunggu toko.”

“Lalu, sekarang kau mau tetap tinggal di sini?”

“Bukan begi—”

“Fine!” Sooyoung melepas tangan Sunny darinya. “Let’s break up!”

DEG

Kata itu. Kalimat berisi kata terlarang. Itu kata-kata tabu bagai sepasang kekasih.

Sunny tak percaya…

Sooyoung akan semudah itu mengatakannya.

Terlalu sakit. Mendengar untaian kata itu terucap dari bibir seseorang yang dicintainya, bagai mimpi terburuk yang pernah ada.

“Aku ingin hidup dengan tanganku sendiri, Sunny. Meski itu artinya itu mati.” Sooyoung mengalihkan matanya dari tatapan Sunny.

Tidak. Dia masih menyayangi gadis manis itu. Dia tak bisa meninggalkannya sendirian di sini, karena itu artinya dia bunuh diri—mengingat Sunny adalah segala untuknya. Namun, dia terlalu lelah hidup bergantung pada orang lain. Dan itu berarti dia harus membawa Sunny pergi bersamanya.

Rencana awal hancur. Bayangan bahagia Sooyoung tentang hidupnya yang akan berubah,bagaimana nanti dia akan bekerja keras menghidupi dirinya dan sang kekasih, hancur. Meleleh bersama dengan air mata yang turun dari pelupuk mata Sunny.

Sooyoung menatap getir Sunny, dengan takut.

“Aku tidak bisa,” Sunny terisak.

“Aku merasa bersalah, kalau meninggalkan Mrs. Kim begitu saja. Beliau sudah seperti ibuku.”

“Dan rasa sayangmu mengalahkan cintamu padaku?” Tanya Sooyoung dingin. Sungguh, sebenarnya dia tak sampai hati melihat gadisnya menangis seperti ini. Tapi, dia terlanjur kesal karena Sunny merusak impiannya. Mimpi mereka berdua.

Sunny menggeleng lemah. Tubuhnya bergetar menahan tangis yang dalam. Dia bingung harus memilih siapa. Kekasih yang sangat dicintainya ataukah ibu angkat yang disayanginya?

Menurutmu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: