In the Season Woods

27 Des

TITLE:;: In the Season Woods (Love Story)

PAIRING;;: EunHae

AUTHOR:;: Cherry Chibi>w<

A/N:;: lg2 ff aneh (gagal)~~ -A-/ gomen g muasin>< happy reading~>w<

WARNING:;: This fanfiction is YAOI!!! BOY X BOY!!! Don’t like? DON’T READ!!!>< Bahasa aneh, alur kecepeten, cerita gak genah, de el el! Reader muntah author g nanggung =.= *kabur*

 

Musim semi, adalah saat di mana aku bertemu dengannya. Di hutan kecil di pojok kota yang penuh dengan semerbak bunga yang bermekaran. Dia berada di sana, di tempat aku bermain sendiri saat tidak ada yang bisa diajak bermain. Kulihat sosoknya sedang menari di balik hijaunya daun dengan angin dan cahaya hangat musim semi. Tatapannya teduh, senyumnya indah dan gerakan tubuhnya sangat alami berpadu dengan keindahan alam. Aku terpukau olehnya sejak pertama kali bertemu.

Suara langkahku membuatnya menghentikan tariannya dan menoleh padaku.

“Hai,” sapanya ramah dengan senyum gummy. “Ini tempatmu? Maaf sudah memaiknya tanpa izin. Aku HyukJae.” Dia mengulurkan tangannya padaku.

Kata Appa aku harus berhati-hati dengan orang yang tidak dikenal. Tapi aku sudah mengenalnya, kok. Aku tahu namanya dan itu cukup untuk disebut mengenal.

“Donghae.” Aku menjabat tangannya dan tersenyum manis.

Dan pada sepersekian detik saat mata kami bertemu semuanya mulai terjadi. Dia orangnya menyenangkan. Humoris dan enerjik. Dia mengajariku dance yang dia kuasai, dan aku mengajarinya rapp. Masing-masing kami cepat memahami materi yang ditangkap dan mempraktekannya. Yah, meski gerakan danceku belum sebagus Hyukjae, tapi aku sudah mahir sekarang. Dan dia sangat cepat saat kuajari rapp. Mungkin karena logat Seoulnya atau apa dia bisa rapping lebih cepat dari aku.

Kami jadi sering bertemu dan bermain di hutan kecil walau sudah tahu rumah maisng-masing. Yah, kami ingin meluangkan waktu hanya berdua. Dan karena itu juga aku jadi terperangkap oleh pesonanya. Dia yang paling banyak menghiburku saat Appa pergi dari sisiku. Bahkan dia menangis lebih keras dibadingkan aku saat dia menenangkanku.

“Uwaaaaa!! Panasnya!” Hyukjae menjatuhkan dirinya di bawah pohon. Kudekati dirinya dan kulempar es krim di tanganku. Dengan senang Hyukjae memakannya.

“Haahh, musim panas sudah datang, ya? Sebentar lagi libur. Yes!” aku mengambil duduk di sampingnya dan ikut memakan es krim di tangan Hyukjae. Aku memang hanya beli satu karena hanya ini yang tersisa di mini market. Yang lain sudah menghilang dengan gaib(?).

“Pergi ke mana gitu, yuk? Waktu libur.”

“Ayo! Ke mana?”

“Eumm… ke Seoul? Kutunjukan orangtuaku yang di sana.”

Dia tinggal bersama orangtua angkatnya di sini sementara orangtuanya mencari nafkah.

“Boleh? OK!” sambutku dengan semangat. Dia tertawa pelan melihat tingkahku. Tapi tiba-tiba saja dia menarik tanganku dan kurasakan sesuatu yang basah menyapu kulitku.

“H-HEI!! APA YANG KAU LAKUKAN!?” teriakku kaget. A-apa maksudnya menjilat telapak tanganku!?

“Esnya meleleh.” Sahutnya ringan sambil masih menjilati air es yang turun ke tanganku.

Harusnya aku berontak. Nggak terima diperlakukan gini sama namja. Tapi kenapa tubuhku Cuma diam aja!? Dan lagi wajahku merah waktu dia lakuin itu.

Karena udara yang panas es krim di tanganku terus mencair. Cepat-cepat Hyukjae memakan habis semuanya setelah selesai dengan tanganku. Tapi es krimnya nggak masuk mulut Hyukjae semua, Cuma yang sekarang aku pegang tinggal stik es krim.

“Es krimnya!!” seruku kesal. “Yahh… Hyukjae-a!”

Hyukjae menaikan satu alisnya sambil menatapku lalu berganti menatap es krim di mulutnya. Maksudnya aku disuruh makan es krim itu.

.

EH!? APA!?

Ogah! Ogah! Walau sebenarnya ada keinginan juga, sih.

“Mmm!! Nghh!!” Hyukjae menunjuk-nunjuk es krim yang mulai meleleh. Dengan cepat aku segera memakannya. Tapi karena es krimnya memang tinggal dikit, bibir kami bersentuhan saat aku memakannya. Buru-buru aku menarik kepalaku tapi Hyukjae menahannya.

Dia menjilat sisa es krim yang ada di sekitar bibirku. Aku nggak berontak sama sekali dan justru menikmatinya. Aku memejamkan mataku saat Hyukjae melumat lembut bibirku. Dapat kurasakan tangannya mengelus pelan sesuatu di selangkanganku.

Dan disaksikan langit langit musim panas kami memadu cinta.

Kami melewati hari-hari berikutnya dengan biasa, walau bertambah dengan keromantisan kami. Dari hari ke hari perasaan cintaku semakin kuat padanya. Aku semakin nggak mau kehilangan dia walau akhirnya kami dipisah juga.

Hyukjae harus kembali ke Seoul karena orangtuanya sudah sukses dengan usaha mereka di sana. Di saat terakhir dia menyanyikan dan menarikan sebuah lagu untukku. Lagu agar aku tetap bersemangat. Dia menarikku berdiri, mengajakku untuk ikut menari bersamanya. Aku tersenyum mengangguk. Akhirnya kami menari diantara dedaunan yang berguguran. Biarlah kali ini angin musim gugur membawamu pergi, Hyukjae.

“Biarkan angin musim gugur membawa terbang air matamu dan cinta kita.” ucapnya saat memelukku.

Dengan cepat aku menarik diriku. Aku menatapnya masih dengan air Kristal yang turun membasahi wajahku.

“Shireo. Kamu nggak suka aku lagi!?” pekikku histeris. Aku tahu itu terdengar berlebihan dan sok dramatis, tapi aku benar-benar nggak mau sampai Hyukjae nggak suka aku lagi.

“Bukan gitu, Hae. Aku… mungkin akan sulit aku ke sini lagi. Dan orangtuaku bilang mereka sedang mencarikanku jodoh.”

Air mataku tambah deras dibuatnya. Dengan erat aku memeluknya, melampiaskan semua ke-tidak terimaanku. Tapi apa boleh buat, kami bertemu oleh takdir dan terpisah oleh kenyataan. Kami harus menerima bahwa kami akan mengecewakan orang di sekitar kami jika mereka tahu bahwa kami menyukai satu sama lain.

Kenapa debaran ini terlarang?

Dia mengecup bibirku sekilas sebelum akhirnya pergi menuju orangtua yang telah menjemputnya. Aku hanya bisa tersenyum tipis pada kedua orangtuanya. Dan menatap sedih mobil berwarna silver yang kini meninggalkanku.

Aku merasa setengah semangat hidupku pergi. Sebelum mengenalnya aku baik-baik saja sendiri. Tapi kini dengan kepergiannya kesendirian menjadi siksaan yang amat sangat bagiku. Mengenalnya dalam beberapa bulan sudah berhasil menjadikan dirinya bagian dari hidupku.

Hingga kini aku hanya terdiam di bawah pohon tempat aku dan Hyukjae mengalami saat pertama kami. Masih terasa desah nafas hangatnya di tubuhku, sentuhannya yang menenangkan dan segala darinya terukir di tempat ini.

Dadaku terasa sesak. Bayangan sosoknya kini terlihat di tanah yang berselimut putih tebal. Aku menghela nafas panjang dan kepulan uap keluar dari mulutku. Perlahan setetes cairan bening keluar dari pelupuk mataku.

Akhirnya aku terduduk dengan menekuk kakiku dan membenamkan wajahku di dalamnya. Badanku menggigil kedinginan. Mungkin suhu semakin turun.

Hyuk… kenapa kau tidak datang dan menghangatkanku dengan pelukanmu?

“Neon gwencahana?” terdengar sebuah suara.

Aku mendongak. Orang ini… yang tengah menatapku khawatir. Aku mengusap air mataku dan berusaha tersenyum.

“Nan gwenchana.”

Yah, mungkin cerita yang kali ini berawal pada musim dingin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: