White Love

23 Des

TITLE:;: White Love

PAIRING:;: XSsica (?) (au ah~~ cherry bingung~><) YulSsic

AUTHOR:;: Cherry Chibi>w<

A/N:;: inspiration from brownies reciepe(?) ~happy reading~>w<

WARNING:;: This Fict is YURI!!! Don’t like? DON’T READ!!! Bahasa ngaco, alur kecepeten, cerita aneh, gak jelas, author laperstres! Reader muntah gak nanggung~!!

 

Kuraih pita merah yang tergeletak berada di samping gunting. Dengan hati hati aku memasangkan pita itu ke kotak yang terbalut kertas kado bermotif hati di hadapanku. Senyum tak lepas dari pipiku yang merah merona sedari tadi saat aku memasangkannya. Membayangkan senyum orang itu saat menerima hadiah ini dariku membuat dadaku berdegup kencang. Bersemangat.

Apa dia akan menerimanya? Apa dia akan menerima perasaanku?

Kuangkat kotak yang kini sudah terlihat cantik tersebut. Sangat manis dan serasi dengan pakaian yang kukenakan sekarang. Aku jadi tambah bersemangat memikirkan “kencan” kami hari ini. Ya, dia menungguku sekarang.

Ponselku bergetar. Segera kuangkat dan benar saja, sesuai dugaanku, dia menelefon.

Tuh, kan! Dia menunggu aku di taman kota.

Segera kuambil tas putih milikku dan memacu langkahku keluar rumah. Tak memperdulikan teriakan orang rumah yang menyuruhku bertanggung jawab atas berantaknya dapur dan ruang tengah.

Dengan motor aku menuju taman kota yang cukup jauh dari rumahku. Walau termasuk jauh juga dari rumahnya, tapi kami suka bermain atau bertemu di sana. Taman kota begitu asri dan sejuk dengan bermacam-macam pohon di sana. Dan ada kolam angsa di sana. Aku dan dia sering memberi makan angsa-angsa cantik itu. Lalu juga terdapat sebuah taman khusus di pojok taman. Dan itu adalah tempat kami sering janjian. Hari inipun juga, kami berjanji bertemu di sana.

Ah! Itu dia! Terlihat! Sosoknya yang anggun semakin manis terlihat dalam balutan busana feminim itu terlihat di antara bunga lili putih di sana. Sebuah senyum lembut mengembang di bibir tipisnya saat melihat kedatanganku. Dia menepuk kursi kosong di sebelahnya, menyuruhku duduk di sana.

Aku balas menyapanya dan menjatuhkan diriku di tempat yang dia berikan. Dia mengelus kepalaku lembut saat aku sudah berada di sampingnya. Tapi dengan cepat juga dia menarik diriku saat aku terjatuh dari bangku taman itu. Dan kami tertawa bersama menertawai kegugupanku.

Sosoknya tak berubah. Meski terhalang oleh waktu dan tempat masing-masing, dia masih menyempatkan menanyakan kabarku dan menasehatiku untuk selalu menjadi lebih baik. Bahkan dia masih sempat mengirimkan sesuatu padaku. Sosok yang kucintai tak berubah sejak pertama kali kami bertemu. Ya, aku mencintainya. Aku mencintai sosok yang kini dengan lembut menyapu poniku ke samping kepalaku.

Cinta terlarang yang tumbuh saat dia menarikku dari keterpurukan ditinggalkan oleh lelaki. Yang ternyata aku sudah menanamkan cinta itu sejak kami pertama bertemu. Sosoknya begitu memikat diriku. Menjebakku dalam kenyataan yang membuat diriku menangis karenanya. Aku sudah terlanjur terperangkap oleh duri-durinya. Dia mawar yang berhasil meluluhkan hatiku.

Tapi aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku. Dia sering berkata bahwa dia menyayangiku, tapi bukan mencintaiku. Yang dapat kunikmati hanyalah pesona matanya. Seperti deburan air pantai di hari senja. Begitu menenangkan. Dan sentuhan yang mungkin dia anggap hanya sebagai kehangatan seorang teman. Yang terasa selembut sutra. Begitu rapuh.

Sang bintang utama dari bima sakti semakin berkuasa. Dengan angkuhnya dia menghunuskan pedang sinarnya. Namun terlindung di antara hijau alam membuat diriku dapat melihat jelas kesejukan dalam tatapannya. Dia menggunakan tubuhnya yang lebih tinggi dariku itu untuk melindungiku dari sengatan matahari. Dan melempar senyumannya.

Oh, kumohon, jangan beri aku senyuman itu! Itu membuatku semakin mengiginkannya!

Mentaripun ikut malu menyaksikan diriku yang gugup karenanya. Perlahan dia mulai menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut putih langit.

Dan saat penentuan tiba.

Kusodorkan kotak yang sedari tadi kusembunyikan di balik tubuhku. Memberikannya bersama dengan beberapa kata yang meluncur dari bibirku. Penuh kegugupan. Jantungku memopa darah lebih cepat. Sebisa mungkin mempertahankan kesadaranku di hadapannya.

Hingga akhirnya aku selesai mengucapkan untaian kata terlarang itu.

Dan dia hanya diam menatapku. Oh, tidak! Aku tak sanggup menatapnya. Aku menundukan wajahku. Mengucapkan ribuan penyesalan seiring air mataku yang menetes.

Tapi yang kuterima adalah sebuah pelukan. Bibirnya yang berada di dekat telingaku mengucapkan kalimat yang yang tidak pernah kusangka sebelumnya. Bisikan lembut yang penuh intonasi menghanyutkan itu menerpa lembut gendang telingaku, memantulkannya menuju bendungan air di pelupuk indra penglihatanku. Kembali, air hangat mengalir membasahi pipiku.

Kulingkarkan kedua tanganku pada tubuhnya. Memberinya rengkuhan terbaikku.

Dan melewatkan senja bersama saat itu.

Saat sebuah truk yang melanggar jalurnya melaju tanpa kendali ke arah kami. Tubuhku terlempar begitu terkena bagian depan truk tersebut. Melayang jauh dari sisinya. Dan dia juga terhempas tak jauh dari bangku yang menjadi saksi cinta kami beberapa saat lalu.

Harusnya aku berdiri. Harusnya aku berlari menghampirinya sekarang. Tapi yang bisa kulakukan hanyalah diam. Seluruh tubuhku terasa remuk saat truk itu melindasku. Perlahan bau darah membelai indra penciumanku. Bukan, ini bukan darahku. Yang kini menetes di pipiku adalah dirinya yang mendekapku dan berteriak pada orang-orang sekitar untuk memanggil bantuan.

Satu satunya yang bisa kulakukan hayalah tersenyum. Meyakinkan dirinya aku tidak apa-apa.

Dirinya juga terluka. Darah membasahi kulit putihnya. Rambut indahnya kini menempel di tubuh rampingnya yang juga bersimpah darah.

Dia mengatakan pada diriku untuk bertahan. Tangan hangatnya mengenggam jemariku. Dengan hati-hati dia terus memegangi tubuhku yang sudah nyaris hancur. Dia memanggil namaku. Tapi yang terdengar hanyalah kebisingan orang-orang sekitar. Seperti ribuan lebah mengerubungi telingaku saat dia mulai terisak. Mata cantiknya kini menumpahkan air bening itu.

Senyumku semakin mengembang. Dia bukan orang yang mudah menangis. Di saat kematian seluruh keluarganya yang dilakukannya hanyalah memelukku tanpa sedikitpun bersuara. Di saat kecelakaan tahun lalu yang hampir merenggut nyawanya justru dia yang menenangkan diriku yang menangis karenanya.

Dengan susah payah jemariku beralih ke pipinya. Menangkup lembut di sana. Kemudian menyelipkan beberapa helai rambut yang turun menutupi wajahnya ke balik telinga. Bibirku bergerak tanpa suara. Tenggorokanku hancur. Namun aku tahu dia mengerti apa yang kumaksud.

Dia memaksakan tersenyum. Namun hanya senyum sekilas yang langsung tergantikan dengan kehangatan di bibirku. Hanya sekejap namun bisa mengutarakan semua perasaan kami. Ketakutannya akan kehilanganku. Kebahagianku bisa bersamanya di akhir nafasku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: