Responsible

18 Okt

TITLE:;: Responsible

PAIRING:;: ZinTae/TaeZin

AUTHOR:;: Cherry Chibi>w<

A/N:;: gw couple-in bias cherry ndiri~ two in one~ happy reading~>w<

“Taefung-a…” Zin menarik pelan lengan baju namja dihadapannya. Taefung hanya memincingkan matanya sesaat pada Zin sebelum kembali mengalihkan pandangannya. Kasur yang mereka diduduki terus bergerak oleh gerakan Zin. Syukurlah member X-5 lainnya masih tidur, jadi mereka tak perlu mendengar rayuan dan rengekan Zin yang tak kunjung henti mengingat hari ini cukup tenang tanpa jadwal apapun.

“Taefung-a… jagiya… don’t mad to me…! Jebal!” Zin memasang tampang memelas, memohon maaf pada Taefung dengan sungguh-sungguh. Baru pagi ini mereka bercumbu ketika tanpa sengaja kaki Zin menyenggol porselen kesayangan Taefung hingga jatuh dan memecahkannnya. Nafsu Taefung lenyap saat itu juga mengingat itu benda pemberian ayahnya yang turun temurun diberikan.

Taefung marah pada Zin? Tidak, dia tidak marah sama sekali. Taefung tahu Zin tak sengaja menjantuhkannya. Taefung hanya takut untuk bicara pada ayahnya… takut ayahnya marah karna tahu benda se-spesial itu hancur ketika melakukan sesuatu yang tak diharapkan ayahnya. Ketika bercumbu… dengan seorang namja.

“Aku akan bertanggung jawab… apa saja akan kulakukan…”

Taefung memutar bola matanya sebelum menatap Zin. “Jinjja?”

Zin mengangguk lemas.

“Baiklah… bantu aku menghadapi amarah ayahku.”

Zin menelam ludah. Bagaimana nanti dia menjelaskannya? Haruskah dia mengatakan alasan benda keramat itu pecah? Nyali Zin terlalu kecil untuk mengatakannya. Bukannya dia takut akan mendapat cemooh dari ayah Taefung atau masyarakat, tapi dia takut jika Taefung tak siap dengan resikonya.

“Bagaimana?” tanya Taefung saat tak juga mendapat jawaban dari Zin.

“O-oke. Akhir pekan kita ke sana.” Jawab Zin akhirnya. Dia harus bertanggung jawab. Kau harus hadapi, Zin!

Taefung tersenyum. Bebannya terasa hilang sebagaian mengetahui sang kekasih bersedia bertanggung jawab.

“Bagus.” Taefung tersenyum. “Dan sementara itu…”

“Sementara itu?” Zin mengangkat wajahnya, menatap sang kekasih dengan tatapan tanya. Apa dia harus melakukan sesuatu lagi?

Taefung menarik kerah baju Zin dan melumat bibirnya sekilas. “Kau harus tanggung jawab akan hilangnya nafsuku.”

Zin terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum, faham maksud namja dihadapannya. “Baiklah. Aku akan mengembalikannya.” Dan akhirnya Zin bertanggung jawab untuk kedua kalinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: