:::FICTION CONTES::: Like A Fool

17 Sep

Title : Like a fool
Author : rizuka
Cast : Lee Donghae, Kim Sunhae
Length : oneshot
Genre : romance

Bukan.
Sunhae bukannya membenci wajah pria itu sehingga ia terus menunduk menatap ujung rok lipitnya.
Ia hanya takut.
Takut jika tiba – tiba dadanya sesak dan ia lupa cara bernafas
Ia takut.
Takut jika jantungnya berdebar keras dan pria itu mendengarnya.
Takut jika lututnya lemas dan ia tidak bisa menopang dirinya sendiri.
Karena ia terlalu mencintai pria itu.
Terlalu besar hingga membuat Sunhae takut.
Takut jika dirinya akan terluka dengan perasaan sebesar itu.
***
“Sunhae-ya, apa jawaban nomor 5?” bisik pria itu sambil memandang ke arahnya dan melirik ke guru pengawas yang sedang tertidur pulas.
“Jawaban pertama.” balas Sunhae tak kalah pelan lalu kembali menatap soal yang sedang ia kerjakan dengan serius. Pura – pura serius lebih tepatnya. Jantungnya masih berdetak tidak karuan karena mata mereka yang tadi bertemu.
Pria itu, Lee Donghae, tersenyum ke arahnya. Ia bisa melihat itu dari sudut pandang matanya karena pria itu berada dua meja dari sebelah kanannnya. Darahnya lagi – lagi berdesir. Tangan kanannya meremas ujung soal itu dengan intens. Menghilangkan rasa gugupnya.
Pria itu mengetuk – ngetuk pensilnya dengan gelisah. Sunhae tahu itu. Sunhae menengok ke arah bangku pria itu dan mendapati pria itu sedang memandangnya.
‘DEG’
Cepat – cepat Sunhae mengalihkan pandangannya lalu bertanya pada temannya yang duduk di depannya. Ia menendang bangku temannya itu agak keras.
“wae? ”
“Berapa jawaban nomor 7?” tanya Sunhae pelan.
“137,85.”
“gomawo ”
Salah. Itu jawaban yang salah. Ia sudah menulis jawabannya di lembar jawaban sejak tadi. Ia hanya menghindar dari tatapan pria itu.
Lee Donghae masih menatapnya dan mau tidak mau Sunhae menengok ke arah bangku pria itu. Ia menggigit bibirnya. Menahan debar jantungnya sejak tadi berdebar dua kali lebih cepat jika melihat pria itu.
“Nomor 10?”
“Jawaban ketiga.” jawab Sunhae pelan sambil menahan nafas.
Lagi – lagi pria bermarga Lee itu tersenyum padanya. Sunhae hanya mengepalkan kedua tangannya erat di bawah meja. Merasakan tangannya yang lebih lembab dan dingin dari biasanya.
***
Sunhae mengambil tasnya dan memasukkan alat tulis kedalamnya. Tapi sedetik kemudian ia menjerit kencang saat seseorang menepuk punggungnya dari belakang.
“Hei, kau mengagetkanku!” seru Sunhae sambil berbalik. Tapi sedetik kemudian suara teriakannya hilang entah kemana saat melihat pria yang berdiri di depannya.
“Terimakasih untuk yang tadi, Sunhae-ya.” ujar Donghae dengan suara khasnya.
Sunhae hanya mengangguk dan meremas roknya. Perasaannya benar – benar membuncah. Lututnya terasa lemas karena ini pertama kalinya ia berada dalam jarak yang tidak bisa dibilang jauh dengan Donghae.
“Kalau begitu sampai besok, Sunhae-ya.”
Sunhae masih menunduk. Rasanya ia ingin terbang saja. Mengingat Donghae memanggil namanya benar – benar membuatnya senang tak karuan.
***
Ujian tengah semester berakhir.
Bagi sebagian besar siswa lain hari ini mungkin adalah hari yang menyenangkan. Hari yang begitu dinanti. Tapi tidak bagi Sunhae. Gadis itu masih duduk di depan kelasnya sambil menggoyang – goyangkan kakinya dengan gelisah. Gadis itu merutuki waktu yang berjalan terlalu cepat disaat dia benar – benar menikmatinya.
Sunhae menghela nafas panjang. Kapan lagi ia akan berbicara dengan pria itu? Kapan lagi ia akan melihat mata coklat pria itu sedang menatapnya? Kapan ia bisa melihat senyum pria itu dalam jarak dekat? Ia tidak memiliki kesempatan lagi. Benar – benar ironis karena mereka satu kelas. Terlalu banyak gadis yang mengelili Donghae. Menarik perhatian pria itu. Dan itu semakin memperkecil kemungkinannya. Semua gadis itu tahu apa yang menjadi kebanggaan dan kelebihan mereka. Tapi Sunhae benar – benar tidak memiliki apapun yang pantas dibanggakan. Ia hanya gadis biasa yang menyukai pria sempurna.
***
Gadis itu, Kim Sunhae adalah siswi Namsan High School tingkat dua. Gadis pintar dan pendiam. Dan ia sudah mengagumi pria itu, Lee Donghae sejak ia berada di bangku sekolah dasar.
Saat itu musim panas bulan kedua. Sunhae yang masih berumur 7 tahun bermain dengan sepedanya melintasi taman kota yang ramai. Karena Sunhae belum terlalu lancar menaiki sepeda, ia terjatuh dan lututnya sobek. Darah mengucur deras dan ia hanya bisa menangis. Saat itulah Donghae datang. Bukan untuk menertawakannya seperti anak – anak lainnya. Tapi untuk menggendong Sunhae ke rumahnya yang tidak terlalu jauh dengan taman kota. Disana Sunhae bertemu bibi Han. Bibi Han benar – benar baik. Bibi Han mengobati lukanya. Dan anak laki – laki itu adalah penyelamatnya. Ia akan selalu mengingat hal itu karena ia merasa masih memiliki hutang budi pada Donghae.
Lama kelamaan hutang budi itu berangsur – angsur tumbuh menjadi benih kekaguman. Dan entah kapan, Sunhae merasa yakin benar bahwa ia tidak sekedar mengagumi pria itu. Ia merasa memiliki perasaan khusus pada Donghae. Ia mencintai pria itu tulus. Begitu saja. Bahkan kalau Donghae bukan pria sempurna seperti sekarang Sunhae akan tetap mencintainya. Cinta tidak membutuhkan alasan bukan? Karena jika kau memiliki alasan dalam mencintai seseorang, pada saat alasan itu hilang, cintamu juga akan hilang.
***
Gadis itu duduk termenung di depan meja belajarnya. Begitu banyak kertas yang bertebaran di lantai kamarnya. Begitu banyak huruf yang tertoreh di kertas itu. Tapi dengan jelas kertas – kertas itu hanya menyusun satu nama. Lee Donghae.
Sunhae mengacak – acak rambutnya frustasi. Merutuki dirinya yang terlalu bodoh untuk tidak pernah menolak permintaan Donghae.
Donghae selalu meminjam prnya, Donghae sering meminta jawaban ulangannya, Donghae kadang menyuruhnya untuk membantu pria itu mengerjakan tugas yang pada akhirnya akan dikerjakan oleh Sunhae karena pria itu terlalu sibuk dengan para penggemarnya.
Ia bingung bagaimana senyum Donghae dapat membuatnya selalu menyetujui apapun yang dikatakan pria itu terhadapnya. Ia benar – benar tidak mengerti bagaimana hatinya selalu luluh jika melihat mata coklat pria itu. Sunhae ingin terus menyimpan perasaan itu dalam hatinya. Tapi di sisi lain ia benar – benar takut. Takut jika perasaan itu menjadi sobekan – sobekan luka yang makin lama makin dalam.
***
“Sunhae-ya, kau ada acara sore ini?” tanya pria sempurna itu sambil duduk di meja Sunhae. Sunhae hanya memegangi jantungnya. Meredam setiap debaran yang terlalu kencang.
“Hei, apa kau mendengarkanku?” tanya pria itu lagi sambil mengibas – ngibaskan tangannya di depan wajah Sunhae. Apa pria itu tidak tahu bahwa gadis di depannya sedang mati – matian menahan nafas untuk meredam debaran jantungnya? Sunhae bisa – bisa lumpuh karena perlakuan pria bermata coklat ini.
“Aku tidak ada acara.” Ujar Sunhae pelan. Sepelan angin. Tapi anehnya Donghae bisa mendengarnya.
“Kalau begitu temani aku di café dekat taman kota jam 5 nanti. Aku akan menjemputmu.” Kata Donghae bersemangat.
Bulir – bulir keringat mulai menetes dari dahi Sunhae. Ia gugup setengah mati. Si pria sempurna itu mengajaknya jalan bersama? bahkan dalam mimpi terliarnya pun ia tidak pernah membayangnya hal seperti ini akan terjadi.
“Ta..tapi kenapa?” tanya Sunhae terbata – bata.
“Astaga, apa kau tidak tahu kalau selama ini aku mengincarmu?” tanya Donghae lagi.
Sunhae menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya tiba – tiba terasa kering. Untung saja saat ini kelas sudah sepi, jadi tidak aka nada penggemar Donghae yang akan mencoba mengganggunya.
“Maksudmu?” tanya Sunhae dengan gugup. Saat ini ia sedang mengelap tangannya yang basah pada rok lipitnya.
“Oh, ayolah masa kau tidak sadar kalau aku menyukaimu? Aku sengaja selalu meminta bantuanmu agar kau memperhatikanku.” Jelas Donghae sambil tersenyum. Dan entah yang keberapa kalinya, Sunhae mengalihkan pandangannya dari wajah Donghae.
“Lihat aku Sunhae-ya, aku menyukaimu. Aku ingin terus di sampingmu. Bolehkah?” tanya Donghae sambil memegang tangan dingin Sunhae.
“Tenang saja, kau sama gugupnya denganku.” Kata Donghae sambil mengacak – acak rambut Sunhae.
“Kau tidak bercanda kan?” tanya Sunhae. Kali ini memberanikan diri menatap pria dihadapannya.
“Sama sekali tidak. Jadi bagaimana?” tanya Donghae pelan.
Sunhae mengangguk lemah. Donghae langsung memeluknya erat. Dan selama tujuhbelas tahun ini, Sunhae baru menyadari betapa pentingnya kita menghirup oksigen. Karena kau, akan merasakan bahwa hidup itu benar – benar keajaiban yang sangat indah.
-END-

Satu Tanggapan to “:::FICTION CONTES::: Like A Fool”

  1. Maple September 20, 2011 pada 10:46 pm #

    Sukaaa😄
    Kata2ny bagus bgt..
    So sweet.. =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: