U – 2

27 Agu

TITLE:;: U
CHAPTER:;: 2
AUTHOR:;: Cherry Chibi>w<
A/N:;: mian klo aneh… TT.TT author bru2 namatin nih~Happy reading~ >w<

Hal yang pertama kurasakan saat aku membuka mata adalah… rasa kehilangan yang sangat.

Kutekuk kakiku dan menenggelamkan kepalaku dalam lipatan tanganku. Kembali, aku menangis.

“Yuri? Gwenchanayo?” terdengar sebuah suara yang sangat lembut disampingku. Lewat celah lipatan tangan aku dapat melihat siapa disana yang menatapku dengan tatapan khawatir… dan sedih. Sunny.

“…” aku masih terdiam saat sebuah tangan mengelus punggungku lembut. Sunny memelukku dalam dekapan hangatnya hingga aku lebih tenang. Kemudian dia menarik tubuhnya dari diriku.

“Yuri-a.” panggilnya. Aku tetap diam, tak berusaha merespon apapun. “Jessica memberikan ini padamu.” Ucapnya. Kurasakan sesuatu yang lembut dan halus menyentuh kulit tanganku. Aku mendongak kecil.

Kulihat dengan sedikit samar, akibat terlalu banyak menangis, sebuah boneka teddy berwarna putih dengan pita kecil di lehernya. Boneka itu tersenyum padaku. Kudongakan kepalaku lalu keraih boneka tersebut dan mendekapnya lembut.

“Walau sempat menyelamatkan diri, tapi dia berusaha menyelamatkan boneka itu dari api. Disaat terakhirnya dia terus memanggilmu.” Sunny mengelus kepalaku lembut. “Jaga boneka itu baik-baik.”

Aku mengangguk kecil. Aku masih tak ingin bicara apapun sekarang.

Aku masih tak percaya dia sudah tak ada…

<><>><<><>

Kudongakan kepalaku, menghadap langit sore yang masih nampak cerah. Matahari masih bersinar dengan pantulan cahaya merah dan oranyenya. Hanya kicauan burung yang kembali ke sangkarnya yang menemaniku saat ini.

Mataku terpejam, berusaha menghayati terpaan angin yang menyapu kulitku, berharap angin membawa pergi perasaan ini. Membawa pergi air mata yang menggantung diujung mataku. Semua ingatan akan dirinya.

Aku menundukan wajahku beriringan dengan berhentinya sepoi angin sore. Dan bersamaan dengan itu air mataku jatuh, mengalir melewati pipiku dan akhirnya menetes ketika berada di ujung daguku. Aku menghela nafas berat.

Sudah tiga hari sejak kejadian itu berlalu dan aku masih belum percaya akan roda hidupku sekarang. Aku tak bisa melepasnya begitu saja.

<><>><<><>

Mataku menatap kosong boneka teddy dihadapanku, tapi tanganku tetap mengelus kepalanya dengan lembut.

Dalam tatapan kosongku aku menerawang, sesosok bayangan Jessica yang tersenyum padaku. Senyumnya lebih manis dari boneka ini, tentu saja. Kudekatkan wajahku pada Pporin, boneka dihadapanku, dan kuangkat tangannya hingga tangan boneka itu menyapu pelan pipiku.

Kupejamkan mataku pelan. Membayangkan Jessica-lah yang melakukannya.

“Ssica-ah…” ucapku pelan.

“Ne, Chagi-a?” haha. Bahkan aku masih bisa membayangkan suaranya. Aku hanya bisa tersenyum pahit sekarang.

Kurasakan sebuah tepukan lembut di bahuku. Kubuka mataku dan melihat siapa yang berada dibelakangku. Seohyun. Dia berdiri disana dengan raut khawatirnya.

“Unnie gwenchana? Kau terlihat pucat.”

Aku tersenyum tipis dan mengangguk kecil.

“Benar tak apa? Akhir-akhir ini kau kurang makan, kan? Ah, malah terkadang tak makan sama sekali.” Seohyun duduk disampingku, masih menatapku dengan cemas. Aku hanya tersenyum kecil untuk meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.

Dia masih menatapku khawatir. Ahh, dongsaengku satu ini memang selalu perhatian dengan kondisi kakak-kakaknya.

Kembali, aku tersenyum tipis lalu mengacak pelan rambutnya. Kemudian aku beranjak dari tempatku dan meletakan Pporin diatas ranjangku. Saat aku akan berjalan balik, kakiku menyandung beberapa benda yang tergeletak di lantai. Aku baru sadar, kamarku masih sangat berantakan. Sejak ‘saat itu’ aku jadi tak berniat melakukan apapun.

Aku menghembuskan nafas pelan. Aku masih malas melakukan sesuatu. Karena setiap apa yang kulakukan, pasti terbesit bayangan Jessica dalam bayangku. Dialah yang biasa melakukannya, itu yang yang selalu terpikir olehlu. Dan akhirnya pasti hatiku justru semakin tak bisa menerima kenyataan. Jadi aku hanya bisa diam tanpa berbuat apa-apa. Hanya membiarkan perasaanku mati perlahan.

<><>><<><>

Hari ini perasaanku sudah lebih tertata dari sebelumnya. Teman-temanku semua menghiburku. Setidaknya aku masih memilik mereka saat ini. Aku tak tahu kan kapan akan kehilangan mereka.

“Mau makan siang bersama?” Yoona, teman kerja -ku, menawariku saat istirahat makan siang berlangsung. Dia anak yang baik.

Sebenarnya bisa saja aku meneriwa tawarannya, karena aku tak ada jadwal kuliah hari ini, tapi entah kenapa perasaanku masih belum terbiasa dengan keadaan ini. Biasanya saat ini aku pulang, dan makan siang bersama Jessica sambil mengobrol sampai waktu kerja bagianku, kembali.

Tapi aku juga merasa tak enak dengan Yoona jika menolaknya. Lagipula cepat atau lambat aku harus terbiasa dengan keadaan sekarang.

Akhirnya aku mengangguk pelan. “Ah, bagaimana kalau ke rumahku saja?”

Dia tampak berfikir sejenak lalu mengangguk setuju. “Tapi sebelum setengah dua aku harus kembali bekerja, giliranku menjaga kasir.”

“Baiklah.”

<><>><<><>

Aku mendorong knop pintu perlahan. “Maaf berantakan.”

Yoona hanya tersenyum manis lalu berjalan menuju dapur, setelah meletakan barangnya di ruang tamu, sementara aku pergi ke kamar mandi sebentar.

“Kau sudah masak?” tanya Yoona saat melihatku diambang pintu dapur.

“Hm? Ani. Beberapa hari ini aku tak memasak lagi.” Jawabku cepat. Aku berjalan mendekatinya.

“Lalu ini?” dia menunjuk dua piring spagethi. Aku mengernyitkan dahiku. Tak mungkin Seohyun yang memasaknya, dia pergi ke Canada tadi pagi. Dan Sunny? Sangat impossible seorang Sunny menginjakan kakinya di dapur setelah kejadian tahun lalu itu. Saat segalanya menghilang dari dirinya.

“Molla.” Jawabku asal. Aku memang tak tahu, kan?

“Ya sudahlah. Ayo kita makan!” tanganku meraih kedua piring tersebut dan menarik Yoona menuju meja makan.

<><>><<><>

“Hati-hati!” seruku pada Yoona yang sudah berada di pagar kayu. Dia tersenyum manis lalu menganggukan kepalanya kecil. Kembali pamit. Sopan sekali anak itu, gumamku kecil.

Selepas Yoona pergi kakiku masih berada di tempat yang sama. Kepalaku mendongak. Dengan menyipitkan mata aku menatap mentari musim semi. Hari masih siang.

Terik mentari menyapu lembut kulitku. Angin bertiup pelan, menyibak rambutku.

Kupejampkan mataku, meresapi hangatnya sang bintang siang.

Waktu telah berlalu. Dan aku tetap tak bisa berpaling darimu. Semua berubah, kecuali diriku,

Jessica-ah… bantu aku untuk menatap kedepan.

“Hhh…” aku menghela nafas pelan. Kau tak boleh lemah Yuri! Waktu terus mengejarmu meski kau bersembunyi darinya. Fighting!

Kutarik badanku dan masuk kedalam, menutup pintu perlahan.

Mataku menerawang lantai. Dan perlahan mendongak, menatap lurus.

Ruangan ini terasa luas tanpamu, Ssica-ah.

Jarum jam dinding terus berjalan. Waktu kerjaku masih nanti sore.

Kembali kulangkahkan kakiku menuju kamar.

Tapi entah kenapa, di tempat ini terasa berbeda. Ruangan ini masih memliki jejak Jessica. Masih tercium aroma farfumnya. Hangat dirinya.

Dan kamar yang rapi…

Eh?

Tunggu dulu! Kamar yang rapi!?

“EH!?” aku membelalak. Dengan langkah tergesa aku berkeliling kamarku. Mataku berkeliaran, mengamati semua benda-benda. Tak mungkin! Kamarku rapi!? Siapa yang merapikannya!? Tak ada yang pernah masuk kamarku kecuali aku dan Jessica!

Tep

Langkahku terhenti. Berpikir sejenak. Siapa yang melakukan ini? Tadi… makanan sudah tersedia. Dan sekarang kamarku rapi…?

Hanya satu nama yang terbesit, yang mungkin melakukan semua ini…

Jessica…

BRUUK

Aku terjatuh, terduduk.

Tak mungkin! Tak mungkin!!

“Arrgghhhhhh!!” aku mencengkram kepalaku kuat. Kepalaku terasa berdenyut saat memikirkannya.

Jernihkan pikiranmu Yuri!

Tak mungkin Jessica yang melakukannya…

Tak…

Mungkin…

“Pporin…”

Mataku menangkap sesosok boneka teddy, duduk, tepat disampingku. Dengan cepat aku menoleh.

Kuraih boneka tersebut dengan tangan bergetar. T-tak mungkin Pporin yang melakukannya, kan…?

“Pporin-a…” Jariku mengelus perlahan kepala lembutnya. Kutatap kedua mata kancing Pporin. Tak ada yang ganjil. Lalu apa yang terjadi?

“Yuri-a…”

Sebuah bisikan halus terdengar. Aku tak memperdulikan suara itu. Kepalaku masih terasa berdenyut. Sakit.

“Yuri-ah…”

“Yuri…”

Aku menengadahkan kepalaku, merasa suara itu berasal dari sana. Tapi tak ada yang kudapati.

Haha. Sudah pasti aku berhalusinasi.

Sebaiknya aku istirahat sekarang.

Aku beranjak menuju ranjangku. Perlahan kurebahkan tubuhku diatasnya. Fuuhh… begini lebih baik. Pelukanku pada Pporin semakin kueratkan.

Sunyi. Hanya suara jam dinding yang terdengar.

Mungkin aku lupa menutup jendela lagi, karena, kurasakan angin menyapu lembut kulitku.

“Yuri-a…”

Kubuka mataku perlahan.

Kudapati sesosok siluet Jessica disana. Berdiri dengan senyum indahnya.

“Ssica…” Aku bangkit dari tidurku. Ini bukan mimpi, kan…?

Jessica masih berdiri disana. Tangannya terulur padaku. Wajahanya terlihat beitu teduh. Serasa damai.

Kakiku turun dari ranjang, menapak lantai. Tanganku terangkat berusaha menggapainya. Kulangkahkan kakiku mendekatinya. Dia terus tersenyum, bersabar menantiku.

1 langkah… 2 langkah… sedikit lagi aku berhasil menggenggamnya.

Hingga tanpa sadar aku sudah berada di bibir jendela. Yang kurasakan setelahnya hanyalah hembusan angin yang menerpa tubuhku saat aku terjun bebas.

Jessica… dia berada disampingku. Tangannya masih terulur padaku. Kukaitkan tanganku padanya. Senyumnya semakin merekah.

“Kita sampai, Yuri…”

CIITTTTTT

BRRAKKKK

Terasa benturan yang sangat keras di kepalaku. Kurasakan beberapa organ tubuhku mulai mati.

Mataku menerawang langit. Sosok Jessica telah menghilang. Terganti dengan beberapa orang yang mulai mengerumuniku.

Dalam samar aku dapat melihat Pporin yang bertengger di bingkai jendela, tersenyum padaku. Dibelakangnya berdiri seorang… Krystal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: