U – 1

10 Agu

Awlanya pengen jadi oneshoot, tp ternyata lebih gampang chapter.. hehe^^

TITLE:;: U
AUTHOR:;: Cherry Chibi>w<
CHAPTER:;: 1/?
CAST:;: Yuri, Jessica, Krystal
A/N:;: ini ff yuri-ku yg pertama ak post… mohon maklumi kalo aneh! Happy reading~>w<
WARNING:;: ooc, alur kecepeten, de-el-el, yg nekat baca gk tangguung klo ancur! >//< THIS FIC IS YURI! GIRL X GIRL! DON’T LIKE? DON’T READ! DON’T BASHING!

+KRRRINGGGG KRRIINGGG+

Hm? Ada telefon masuk. Segera kumatikan shower dan meraih bathrobku. Setelah mengikat tali bathrob aku meraih selembar handuk kecil untuk membungkus rambut basahku. “Ne! Sebentar!” seruku sembari membuka pintu kamar mandi dan menghampiri meja nakasku. Entah kenapa aku mengatakan kalimat bodoh seperti itu, jelas-jelas yang tak ada yang kuajak biacar.

Kuraih ponselku dan menekan tombol untuk menjawab, tanpa melihat nama penelefon. “Yobuseyo?”

+”YA! Kenapa lama sekali mengangkatnya?!”+ seru seseorang diseberang sana. Sebuah senyum langsung mengembang di wajahku mendengar suara ini.

“Jessica!? Bogosipoyo~” ucapku manja dengan aegyo seolah dia ada dihapanku. Terdengar dia terkekeh pelan.

+”I know. Nado bogosipoyo nae Yuri.”+

Senyumku semakin lebar mendengar kalimatnya barusan. Dan kurasakan pipiku sedikit menghangat mendengarnya. “Ah, bagaimana liburanmu?”

+”Seru sekali! Akan kuceritakan saat aku sudah sampai. Oh ya, kau mau titip oleh-oleh apa?”+ tanyanya antusias.

Aku mengerlingkan mataku sembari bergumam, “Eum… apa, ya?” aku berpikir cuup lama.

+”Palli! Mwoya?”+

“Terserah kau saja, deh.” Jawabku manis pada akhirnya. “Ah, aku sedang belajar merajut sekarang. bagaimana kalau kubuatkan sarung tangan?”

+”Yuri~ musim dingin masih lama. Baru saja ini musim semi.”+

“Tak apa. Ja, ukuran tanganmu berapa?” tanyaku sembari meraih selembar kertas dan pensil yang kuambil dair laci meja dan menggambar pola disana.

+”Bagaimana cara mengukurnya? Pakai apa? Ukuran jari kita berbeda, kan? Dan lagi aku tak membawa penggaris.”+

Aku terkekeh pelan. “Tak usah pakai penggaris. Ukur saja dengan liontin kembaran kita. Baiklah. Berapa liontin panjang pergelanganmu?”

Terdengar dia berpikir sebentar, lebih tepatnya menghitung. Setelah dia menjawab ukuran pergelangannya, aku kembali menanyakan ukuran lainnya. Semua kucatat di kertas tadi sembari mencorat-coret diatasnya dengan sign love dan namaku serta Jessica.

Tapi percakapan berakhir tepat saat ukuran terakhir dia jawab, sambungan putus begitu saja. Kulihat layar ponselku.

+LOW BATTERY+

“Aish!” kubanting posel ke pantal disampingku. Karena lupa mengisi battery aku harus mengakhiri percakapan kami. Sial! Padahal aku masih ingin bicara padanya~

Sambil mengomel tak jelas aku mencari charger ponselku di kamarku. Ish! Aku lupa menaruhnya dimana. Biasanya saat seperti inilah Jessica yang ingat letak barang-barangku, atau dia sudah merapikannya terlebih dahulu.

Tak kunjung menemukan charger akhirnya aku keluar kamar dan mencari diseluruh sudut ruangan. Mungkin saja nanti Jessica akan menelefon lagi, jadi aku harus menyiapkannya.

Dua jam berlalu tanpa ada hasil apapun. Tapi, entah sejak kapan tanganku bergerak sendiri untuk merapikan barang-barang yang kemungkinan menutupi charger.

Aku terdiam bengong melihat hasil kerja kerasku sendiri. Yah, walau tak serapih Jessica tapi ini sudah sangat jauh dari kerapian rata-rata seorang Yuri. Tapi lelah juga ternyata. Aku merabahkan tubuhku diatas sofa dengan sedikit kasar. Mataku menerawang langit. Aku tak dapat membayangkan betapa lelanya Jessica saat merapikan rumahku.

Tiba-tiba kantuk menyerangku. Mataku terasa sangat berat. Aku menguap lebar. Dan setelahnya aku tak dapat merasakan apa-apa lagi.

<><>><<><>

KRRRRRRRRRRRRIIIINNGGGG

Dering alarm membuka mataku dalam sekejap. Aish! Alarm sialan! Padahal bagus tadi aku mimpi bertemu Jessica.

Dengan malas-malasan aku turun dari sofa dan berjalan menuju kamarku. Kumatikan alarn diatas meja kemudian menguap lebar sembari merenggangkan ototku. “Aahhh~” kulirik ranjang disebelahku. Ponselku masih ada disana.

Kuraih ponselku dan menyalakannya. Tapi tentu saja, tak bisa. Kuletakan kembali ponselku pada tempat sebelumnya. Aku masih malas untuk mencari charger-nya.

Ah iya, aku kan mau membuatkan Jessica sarung tangan. Tapi sebelumnya… kurasa aku harus mandi dulu. Kusambar handuk yang tergantung didekat pintu kamar mandi dan masuk kedalam kamar mandi.

<><>><<><>

Tik… tik… tik…

Suara jam dinding terdengar jelas. Hanya suara itu yang menemaniku sekarang selain jarum sulam dan tumpukan benang wol. Aku berkonsentrasi pada sulamanku.

Sedikit lagi…

“Ahhhh!!” seruku ketika tanpa sengaja tanganku menyenggol tempat jarum hingga akhirnya beberapa jarum sulam jatuh, berserakan di lantai.

Nanti saja, pikirku. Kembali kulanjutkan rajutanku. Tapi gerakanku terhenti ketika bayangan Jessica melintas di benakku. Kalau dia tahu aku tak segera membereskan benda yang berserakan seperti ini, dia pasti akan mengomel sambil membereskannya.

Aku tersenyum membayangkan wajah kesalnya saat berbicara panjang lebar tapi tanpa menatap orang yang dimarahi. Segera kuselesaikan sulamanku dan langsung berjongkok, memungut satu-per-satu jarum sulam yang berbagai jenis itu.

Setelah membereskan semua alat sulamku aku beranjak menuju jendela besar ditengah-tengah salah satu dinding di ruangan ini. Mataku menerawang langit pagi yang cerah. Err, lebih tepatnya silau. Aku menyipitkan mataku dan menggunakan tanganku untuk mengurangi cahaya yang masuk dalam mataku. Kembali aku tersenyum saat bayangan Jessica berkelebat.

“Yuri! Jangan berjemur diatas jam 10! Lihat! Ini sudah jam 11 30.”

Kalimat itulah yang biasanya aku denger disaat seperti ini. Atau…

“Tutup jendelanya! Serbuk bunga bertebaran dimana-mana, kau tahu?”

Yah, walau kami sama-sama tak alergi serbuk bunga, tapi kucing pemberian Jessica dulu alergi pada serbuk bunga. Aku tak bisa faham, bagaimana seekor kucing bisa alergi serbuk bunga? Tapi juga… karena serbuk bunga akhirnya kami kehilangan kucing gendut itu. Aku sampai repot harus menenangkanya saat itu. Dan yang paling kusesali adalah, kenapa aku sampai berpikir untuk membawanya keluar dengan alasan agar antibody-nya terbentuk? Padahal sudah jelas dia terus-terusan bersin.

Aku tertawa pahit mengingat kejadian menyedihkan itu. Sudahlah, yang berlalu biarkan.

Angin bertiup pelan, menyapu kulit dan rambutku dengan lembut. Setangkai daun ikut terbang bersamanya. Kutengadahkan tanganku untuk menangkap daun tersebut. Dan ajaibnya daun tersebut jatuh tepat di tanganku. Kutarik kembali tanganku dan mengamati daun itu. Warnanya kuning pucat, daun kering yang rapuh. Aku mengerutkan keningku. Musim semi begini ada…?

Kuedarkan pandanganku pada tanaman-tanaman disekelilingku, yang besar maupun kecil. Dan tak satupun ada yang berwarna kucing pucat. Ahh, mungkin bawaan angin saja.

Kutarik diriku menjauh dari bibir jendela lalu menutupnya. Angin dingin masih bertiup diluar sana…

<><>><<><>

“Yap! Selesai!” aku tersenyum memandangi kotak yang dibalut kertas kado bergambar hati didepanku. Baru saja aku selesai membungkus sarung tangan buatanku itu. Semoga Jessica senang dengan polanya, ucapku dalam hati.

Jessica pulang nanti malam, mungkin lebih baik aku menyerahkanya besok pagi.

“Ahhh~” aku merenggangkan ototku. Lumayan lelah juga membungkus kado dengan rapi seperti tadi. Kutarik sebuah bantal yang tak jauh dariku, kuletakan tepat dibelakang tubuhku lalu kepalaku kubaringkan diatas bantal tersebut.

Semerbak farfum yang sangat kukenal tercium saat kujatuhkan kepalaku di bantal. Ini aroma Jessica. Ahh~ aku jadi merindukannya.

Aku tersenyum tipis, memejamkan mataku, menghirup aroma ini dalam-dalam, berharap itu sedikit mengobati rinduku padanya. Kembali kubuka mataku sesaat, lalu kupejamkan kembali. Mungkin dengan tidur akan membuat waktu berjalan cepat.

<><>><<><>

DEG

Seketika aku membuka mataku dan bangkit dari tidurku. Beberapa butir air mengalir dari pelipisku. Nafasku terasa tak beraturan. Mimpi apa aku tadi!?

Tadi, aku bermimpi… ah, bukan mimpi! Aku tak bermimpi apa-apa tadi, kurasa. Tapi entah kenapa ada perasaan kuat yang medorongku untuk membuka mata. Dan saat aku terbangun kudapati tubuhku sudah penuh peluh dan nafas yang teratur seperti habis lari jauh.

Kuraih bantal dibelakangku dan kupeluk erat. Entah kenapa ada perasaan takut, khawatir, entahlah perasaan apa itu, yang pastinya perasaan tak enak yang sangat kuat. Dan entah kenapa, perasaan itu seolah terhubung dengan Jessica. Dia tak apa-apa, kan?

Baiklah, Yuri. Tenangkan dirimu! Kau hanya bermimpi buruk, ok?

Kembali kuletakan bantal dan kubaringkan tuubuhku pada posisi semula. Kucoba untuk memejamkan mataku, tapi tak bisa. Perasaan tak enak itu terus menghantuiku. Aku sangat cemas pada Jessica! Itulah yang kurasakan.

Segera aku beranjak ddari posisiku dan berlari menuju luar, tepatnya menuju rumah Jessica.

Sepanjang perjalanan perasaan itu semakin kuat, dan kuat. Dan perasaan itu terbukti saat kulihat dua buah mobil pemadam kebakaran terparkir didepan rumah Jessica. Beberapa orang berkumpul untuk membantu.

Aku berlari mendekati rumah yang kini memliki bekas gosong di beberapa tempat. Seorang yeoja menghampiriku dan langsung menarik lenganku begitu melihat kehadiranku.

Dia menarikku menuju sebuah mobil ambulance. Dapat kulihat seorang yeoja terbaring diatas kasur dorong yag berada didalam ambulance tersebut. Itu Jessica…

Aku tak dapat menhaan air mataku lagi. Kudekati sosok itu dengan cepat, tapi seorang ahjussi menahanku.

“Agashi, tolong jangan dekati dulu.” Ucap ahjussi tersebut. Aku berusaha melepas cengkraman tangannya padakau dengan sekuat tenaga. Aku berontak.

“JESSICA!! JESSICA!!” seruku sembari menggenggam tangannya pelan. Kuraba urat nadi di pergelangan tangannya.

Deg “!”

Aku berbalik menoleh pada Krystal yang masih terdiam sesunggukan disana dengan cepat. “Ja-jangan katakan padaku dia…” kalimatku terpotong ketika Krystal menganggukan kepalanya pelan.

“Jessica unnie sudah pergi…” ucapnya pelan, sangat pelan dan bergetar. “Di-dia berusaha menelefonmu. Saat itu dia sedang menghidupkan kompor, dan gasnya…” Krystal tiba-tiba ambruk, terduduk di tanah sembari mencengkram pakaiannya yang sedikit terbakar.

Aku membeku di tempat.

Jessica… telah…

“ANDWAE!!” bentakku. Terlihat Krystal cukup terkejut dengan teriakanku. Dia mengangkat wajahnya.

Segera kuberbalik pada Jessica. Wajah itu… dengan ekspresi seperti itu tak mungkin dia sudah meninggal, kan?

Hahaha. Aku tertawa pahit sendiri.

Bibir itu… dengan bibir semerah itu tak mungkin dia telah tiada, kan?

Dia…

“JESSICA!!” kuguncang pelan bahunya. “JESSICA!! JANGAN BERCANDA!! BANGUNLAH DAN KATAKAN KAU HANYA MAIN-MAIN!!”

“Unnie!! Yuri unnie!!!” Krystal berusaha menarik tubuhku, menjauhkanku dari Jessica.

Tidak! Aku tak ingin berpisah dengannya!!

Aku terus berontak, tak ingin bergeser sedikitpun menjauh dari Jessica.

“YURI UNNIE!!”

Aku…

Seketika pandanganku kabur. Dan perlahan semuanya menjadi gelap…

__0x0

Ak gk tau gmn sifat n charanya Yuri unnie n Jessica unnie TT__TT jd klo ooc mohon maaf! *sujud2*

Coment please? ^^

Semakin banyak yg coment, makin cepat dilanjutin n dipost chapter lanjutanya~

2 Tanggapan to “U – 1”

  1. kaoruchan Agustus 28, 2011 pada 1:56 am #

    aahh ini apa2aaaannn !! Ini baru chapter pertama dan si-sicanya udah.. Aaahhh lanjut lanjut !! TTwTT

    • Cherry Chibi Agustus 28, 2011 pada 2:30 am #

      udah dilanjut kok~ -w- sana baca~ *tendang Kaoru*`

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: