Destiny Is So Pain – Chapter 3 (Squel Dad’s Prohibition)

3 Mei

Title :: Destiny Is So Pain – Chapter 3 (Squel Dad’s Prohibition)
Author :: Han Hyo Hee
Genre :: Romance, Family, Angst
Rating :: NC-17
Main Cast ::
• Park Hyo Seo a.k.a YOU
• Lee Hyuk Jae a.k.a Eunhyuk
Other Cast ::
• Park Jung Soo a.k.a Leeteuk
• Park Yoonhae
• Park Young-ah
• Lee Sungmin
• Choi Siwon
• Choi Sulli
• Lee Jira
• Cho Kyuhyun
————————————————–
—Flashback Before—
Saat aku sudah hampir sampai rumahmu, kira-kira 1 km lagi, ada sebuah mobil sedan hitam berjalan berlawanan arah denganku. Sepintas aku melihat Mr Park dari kaca depan. Dan aku melihatmu, Hyoseo! Kau dijok belakang sedang memandang keluar jendela. Tapi, sayangnya kau duduk disisi yang berjauhan dari tempatku. Jadi kau tak melihatku. Aigoo! Apakah aku terlambat, Hyoseo?
Aku pun mengerem lariku mendadak. Hampir saja aku terjungkal karenanya. Nafasku terengah. Aku benar-benar tak menduga kau akan pergi. Kau akan pergi kemana Hyoseo, sayang? Kenapa tiba-tiba?
” Hyoseo-ah!!!” teriakku memanggilnya.
Mobil semakin menjauh dari pandanganku. Mataku panas. Dadaku sesak. Hatiku seakan tertusuk pisau tajam. Diantara nafasku yang terengah-engah, aku menangis. Sakit. Waeyo Hyoseo-ah? Waeyo? Kau benar-benar meninggalkanku? Kenapa kau lakukan itu? Waeyo!!
” Hyoseo-ah!!!” teriakku sambil berlari mengejar mobil itu.
Aku berlari. Berlari sekuat tenaga dan secepat aku bisa. Langkahku semakin kupaksa daripada sebelumnya. Walaupun nafasku berat sudah, dan perut samping kananku terasa perih. Aku tetap harus mengejarmu, Hyo. Harus! Maafkan, Hyo. Aku terlambat. Dan disisa waktu yang terus menjepit ini aku tak boleh terlambat lagi. Aku tak mau kehilanganmu.
Aku berlari mengejar mobil sedan hitam itu dengan linangan air mata di pipiku. Mobil yang membawa Hyoseo pergi. Dan aku punya firasat tak enak tentang itu. Hyoseo, apkah kau akan pergi meninggalkanku selamanya? Atau kau hanya pergi sebentar?
Mobil sedan itu pun menghilang di sebuah tikungan. Aku semakin memaksakan langkahku. Tak kupedulikan aku berlari di tengah jalan.
” Hyoseo-ah!!!!” teriakku masih berusaha memanggilmu, Hyo.
Apakah kau dengar, Hyo? Apakah kau tak mendengar suaraku? Bahkan tidak hanya dilisan aku berteriak. Hatiku ikut menjerit takut kehilanganmu.
BRAAAAAAAAKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Tepat di tikungan, kurasakan tubuhku terhempas. Aku terlempar dan tersungkur ke aspal. Sempat kulihat samar-samar mobil sedan hitam yang membawamu pergi dari bawah mobil yang telah menabrakku.
” Hy-Hyoseo…” gumamku sebelum semuanya gelap.
—Flashback end—
***
Perlahan kubuka kelopak mataku yang terasa berat ini. Cahaya lampu neon menusuk mataku yang sayup ini.
“ Hyuk Oppa? Kau sudah sadar?” terdengar suara Yoora samar-samar.
“ Hy-hyoseo?” gumamku setengah sadar.
Pikiranku masih terpusat padamu, ayahmu, mobil sedan hitam yang membawamu, rencana busukku untuk mengajakmu kabur. Tapi aku terlambat!
“ Oppa! Berhenti memanggilnya! Dia tidak ada disini!” suara Yoora tampak sengit.
“ Hy-hyoseo… Hyo…” aku masih memanggil-manggil namamu. Kejadian tadi, masih berputar-putar dikepalaku yang terasa pening ini. Aku kalah telak. Aku kalah dari waktu, ayahmu, dan mungkin itu takdir. Haish! Aku benci takdir.
“ Oppa! Dia tidak akan datang! Diam lah, Oppa! Dia tidak disini, dan tidak akan pernah disini.”
“ Hyo… Hyoseo…” aku masih menggumam-gumam tak jelas.
Benarkah kau tidak disini? Aku memutar mataku memandangi seluruh penjuru kamar inap ini dengan sayu. Berharap kau ada disini. Mungkinkah kau disudut? Ataukah kau sedang bersembunyi? Aniyo, itu tidak mungkin. Aku rasa sebelum kau masuk, Yoora pasti akan mengusirmu dulu. Yah, aku tahu kalau dia sangat membencimu. Entah kenapa. Tapi, benarkah perkataan Yoora itu? Kau tidak akan menemui aku? Tidak akan menjengukku yang terbaring lemah ini? Tak akan menanyakan kabarku yang sangat tidak baik ini? Aku harap kau datang. Aku sangat mengharap itu.
Tapi, bagaimana jika kau benar-benar pergi? Apakah Appamu itu akan membawamu pergi dariku? Kenapa rencanaku harus gagal karena waktu? Kenapa impianku gagal hanya karena mobil sialan itu menabrakku? Waeyo?
“ Oppa! Kau harus terima kenyataan kalau Hyoseo bukanlah untukmu!”
Aigoo… dongsaengku, Yoora… kenapa kata-katamu bisa sepedas itu? Belajar dari mana kau? Apakah Appa yang mengajarimu? Atau Eomma? Impossible. Mereka tidak punya waktu untuk mengajarimu berbicara pedas seperti itu. Pernahkah aku mengajarimu berucap seperti itu? Tidak pernah! Tapi, kenapa kau melontarkan perkataan yang begitu menusuk ulu hatiku itu? Kenapa harus kau ucapkan untukku?
“ Hyo…” aku masih bersikukuh memanggilmu. Dengan air mata yang mengalir pelan turun dari ekor mata hingga menetes dibantal. Hatiku pilu mengingat semua tentangmu. Benarkah itu takdir?
–Hyukjae POV _ end–
***
–Hyoseo POV _ end—
Selama di perjalanan aku hanya bisa tertegun memandangi jendela dengan perasaan galau. Tapi, aku rasa perasaan galau itu percuma. Ini sudah terlambat untuk memikirkan jalan keluar. Jalan keluar sudah tertutup, bahkan terkunci rapat. Hyuk, kenapa kau tak mencegahku? Waeyo?
“ Ayo turun!”
Aku tersentak kaget. Sudah sampai bandara rupanya. Aku pun menghela nafasku dan turun dari mobil. Appa sudah membuka bagasi dan menurunkan koperku. Perlahan dengan langkah ragu-ragu aku memasuki bandara.
“ Sekolahlah yang sungguh-sungguh. Appa akan mempertimbangkan kau tinggal dikorea jika prestasimu bagus.”
Mataku terbelalak, senyum mulai terkembang disudut bibirku. “ Jinja?!” pekikku girang. Appa hanya mengangguk pelan sambil tersenyum penuh arti.
“ Gomapta, Appa!!! Saranghae,” pekikku sumringah sembari memeluk Appa.
“ Ne, cepat berangkat!” ucap Appa sambil menepuk bahuku pelan.
“ Ne. Arra!” kataku bersemangat. Aku pun berlari ke salah satu pintu yang dijaga petugas bandara dengan semangat 45. Aigoo! Eomma, ternyata suamimu baik juga.🙂
***
“ Permisi?” kudengar suara seorang namja. Dan tampaknya ia berbicara denganku. Aku pun menoleh berpaling dari jendela pesawat.
“ Hyoseo-ssi?” tanya namja itu ramah.
“ Ne? Maaf, siapa ya?” tanyaku bingung. Aku benar-benar tidak kenal namja yang ada disebelahku ini. Bahkan aku melihatnya saja baru kali ini.
“ Lee Sungmin imnida.” ucapnya sambil menyodorkan tangannya mengajak berjabat tangan. Dengan sedikit ragu, aku ladeni dia. “ Hyoseo mau kemana?”
“ Mwo? Ah… aku mau ke Jerman,” ucapku berusaha seramah-ramahnya. Ia tersenyum dengan senyum mesumnya */plak!*.
“ Ne? Waw, kita sama dong. Hyoseo mau ngapain ke Jerman?” tanyanya sok akrab.
Omo! Lama-lama aku bergidik juga. Apa maksud namja ini sok kenal sok dekat begitu?
“ Err.. aku akan melanjutkan studyku disana. Aku akan sekolah di salah satu SMA di Jerman,” jelasku.
“ Jinja? Aku juga. Wah! Aku rasa ini takdir. Semoga kita bisa satu sekolah,” kata namja yang bernama Sungmin itu dengan senyum terkembang dibibirnya.
Mwo? Takdir? Huih, kenal aja nggak. Tapi, aku jadi penasaran. Kenapa dia bisa tahu aku?
“ Permisi,” panggilku saat Sungmin hendak membuka sebuah majalah.
“ Apakah… aku pernah…pernah mengenalmu?” tanyaku dengan hati-hati.
“ Mwo? Ah… aku rasa tidak.”
“ Jadi?” tanyaku masih penasaran.
“ Jadi apa?” pandangannya kini tertuju pada lembaran majalah dihadapannya.
“ Kenapa kau bisa mengenalku?” tanyaku heran.
“ Mianhae… itu privacy,” jawab Sungmin singkat. Kini aku merasa kacang. Aku pun menatapnya sambil komat-kamit tak jelas. Dalam hati aku mengutuki namja di sampingku ini. Tadinya sok akrab, sekarang cuek bebek. -.-
***
Aku turun dari pesawat dengan perasaan lega. Setelah mengambil barangku, aku pun keluar bandara dan mencari taksi.
“ Hyoseo-ssi!” suara seorang namja yang sepertinya pernah aku dengar.
Aku menoleh dan kudapati Sungmin, orang aneh yang duduk disebelahku dipesawat tadi. Mau apa dia? Aish!
“ Hyoseo-ssi sedang apa?” tanyanya dengan wajah innocentnya yang mesum */plak*.
“ Menunggu taksi,” jawabku ketus. Terus terang aku mulai risih.
“ Oh… Aku juga.”
Siapa yang tanya?! Batinku geram.
Saat ada taksi lewat, aku pun melambai-lambaikan tanganku. Dan tepat didepanku taksi itu berhenti. Kaca jendela perlahan bergerak turun dan kulihat supir taksi dengan kumis lebat menghiasi wajahnya dan mengenakan seragam dinasnya tersenyum. Tapi senyumnya tampak samar-samar, karena bibirnya tertutup kumisnya yang subur itu.
“ Can you deliver me?” aku membungkuk untuk melihat ke dalam taksi.
“ Where you’ll going?” tanyanya masih beramah-tamah.
Aku pun menyodorkan secarik kertas pada supir berkumis lebat itu.
“ Okey. I’ll deliver you.” jawabnya mantap. Aku pun tersenyum sekilas. Supir itu turun dari mobil dan membawakan koperku ke bagasi. Sedangkan aku langsung masuk ke jok belakang taksi.
Setelah supir taksi itu masuk kembali ke jok pengemudi, aku tersentak. Aku merasakan ada yang duduk disampingku. Awalnya aku tak tahu karena aku sedang sibuk menghidupkan handphoneku.
“ Yak!!! Omo! Mau apa kau?!” bentakku dengan perasaan kaget berkecambuk dibenakku.
———–TBC———
Aigoo.. harus TBC lagi neh.. hehe… good reader, aku butuh coment dari kalian.🙂 Don’t bashing, please… bagi yang udah baca dan coment, jeongmal gomawo.. ^^ love you good reader… (*hug GR*) ^^

4 Tanggapan to “Destiny Is So Pain – Chapter 3 (Squel Dad’s Prohibition)”

  1. Nuri Mei 3, 2011 pada 10:57 am #

    Lama bgt lanjutannya, terus kyu siwon sm sulli nya kapan muncul author? Ditunggu part selanjutnya ya, jgn lama2😀

    • hyoheeauthor Mei 3, 2011 pada 1:31 pm #

      hehehe… mianhae… ^^ habis ujian…🙂

  2. lindol-eunkyu Mei 3, 2011 pada 2:57 pm #

    lama banget keluar lanjutannya thor ><

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: