OneShot FF : Over The Rainbow

30 Mar

Tittle : Over The Rainbor
author : Assri’Elf Luph Fishie
genre : PG-13
Cast :
Lee Yoora
Kim Jonghyun
Kim Hyoru
Lee Donghae
Park Seongrin – Author

——
Somewhere over the rainbow, way up high..
There’s a land that I heard of once in a lullaby.
Somewhere over the rainbow, skies are blue..
And the dreams that you dare to dream really do come true..
Somewhere over the rainbow, blue birds fly
Birds fly over the rainbow why then, oh, why can’t I?

—————————————————————————–
–Seoul, 22 February 2000…

“Kelak.. temui aku kala gerimis..
Disuatu tempat diatas pelangi..”

Bungkam beberapa detik. Kemudian kulipat kertas itu lagi, kertas prem berisi sebuah pesan singkat yang kau titipkan pada Seongrin untukku. Kugenggam secariknya erat-erat. Kau tau? Tersimpan banyak tanya dariku untuk ini.
Waey? Waeyo, Yoora ahh?? Aku kembali setelah hampir 2 tahun lamanya, dan kau malah mengerjaiku dengan teka-teki macam ini? Mwora? Apa ini wujud dari kekesalanmu karena aku pergi tanpa pamit? Atau malah wujud kejahilanmu yang sampai sekarang belum juga hilang? Entahlah, aku tidak tau apa yang selalu ada di pikiranmu. Aku hanya tau kau mencintaiku, dan aku juga begitu…
Kelak, itu kapan, sayang?? Adakah waktu yang akan tergurat? Aku akan menunggu..
Menemui saat gerimis? Memang kenapa? Apa 1,5 tahun ini kau jadi senang bermain dibawah gerimis? Aishh.. bodoh, kau bisa sakit!!
Lalu? Suatu tempat diatas pelangi??
“Maaf…” suara lembut Seongrin membuyarkan pikiranku.
Aku mendongak, mengernyit bingung, “Hah? Maaf? Untuk?”
Sahabat kekasihku itu menggeleng, “Aniyo..” ia melirik arlojinya, “Ahh.. sudah siang, aku ada janji dengan Donghae sebentar lagi. Duluan ya, Jonghyun sshi..”
“Dia benar-benar menungguku??” seruku, sesaat sebelum ia benar-benar berlalu..
Seongrin menoleh, “Hemh.. di suatu tempat diatas pelangi..”
“Maksudmu??”
Untuk pertanyaan singkat itu, Seongrin hanya menjawabnya dengan segurat senyum. Kemudian benar-benar berlalu pergi. Tapi.. sekilas aku melihat setitik air mata yang tertahan disudut. Dan senyuman tadi, seolah menyiratkan kepedihan..
Tunggu… Apa ini??

***

–Seoul, 3 Maret 2000…

“Aku dan Donghae mengasuhnya selama 7bulan ini, Namanya Hyoru. Kim Hyoru…”
“Sekarang kau sudah kembali. Jadi kami pikir, inilah saatnya menyerahkan Hyoru pada sang Appa. Dia cantik kan, Jonghyun ahh??” Donghae hyung menepuk pundakku..
Aku diam, menatap lekat bayi mungil yang tengah tertawa kecil memainkan bonekanya dihadapanku itu. Bayi berusia 7bulan yang sangat cantik dengan bibir merah merekah dan mata coklat yang lembut. Mata yang sama sepertimu, Lee Yoora..
Kau mengandung buah hati kita selama ini, dan aku tidak tau?? Kau melahirkannya dengan mempertaruhkan nyawamu, dan aku tidak tau? Jadi saat aku meninggalkanmu ke Jerman dulu, kau sedang hamil? Akhh… kekasih macam apa aku ini..
“Kelak.. temui aku kala gerimis..
Disuatu tempat diatas pelangi..”
Ternyata kau sungguh-sungguh dengan tempat diatas pelangi itu, Jagiya?? Surga??
Kau telah menjadi bidadari, sayang..
Kau terbang keatas pelangi setelah berjuang melahirkan Hyoru kecil kita, dan aku baru tau 7 bulan kemudian sejak saat itu berlalu?? Pabo… Aku bahkan tak bisa melihat senyum terakhirmu ketika melepas dunia..

Maaf, Yool… Aku bodoh saat meninggalkanmu begitu saja.
Maaf, Yool… Aku pecundang saat melakukan hal nista itu padamu dengan alasan cinta.
Maaf, Yool… Aku jahat saat tak mengetahui kehamilan kekasihku sendiri.
Maaf, Yool… Aku egois saat aku lebih memilih karirku dan pergi ke Jerman.
Maaf, Yool… Maaf… Maaf… Maaf, Hyoru..

“Kim Jonghyun!! Seorang Appa, tidak boleh menangis di depan anaknya sendiri..” kata-kata Donghae hyung membuatku segera mengusap air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir..
Kenapa aku jadi cengeng?? Akhh.. Lee Yoora, dari atas pelangi, apa kau lihat ini? Tetes air mata pertama yang dikeluarkan Kim Jonghyun untukmu..
Seongrin merengkuh Hyoru dan menggendongnya dari dalam box, ia lalu mengangsurkan bayi cantik itu kearahku, “Yoora menitipkan harta yang paling indah sebelum ia pergi ke suatu tempat diatas pelangi. Kau harus menjaganya, Arraseo?”

***

–Seoul, 8 Mei 2000…
“Kau pikir bisa focus bermain jika kau mempunyai seorang anak sedang istrimu sudah mati?? Sudahlah, berhenti bermain!! Urusi saja anakmu!!”
“APA?? HAH?? DIA BUKAN CUCU KAMI!! Bisa saja kekasihmu si Yoora itu melakukan hubungan dengan namja lain!! DIA BUKAN ANAKMU!! DAN BUKAN CUCU KAMI!! KAU DENGAR??”
“Berikan Hyoru pada kami, dan kau enyahlah dari sini! KAMI MUAK! KAU MENODAI YOORA KAMI, DAN KAU JUGA TELAH MEMBUNUHNYA!! Pergi!! Dan berikan hyoru!! Kami tidak sudi cucu kami diasuh oleh pria bejat sepertimu…”

Mr.Raider di Jerman tidak mau merekrutku lagi setelah tau aku punya anak..
Impianku menjadi pemain sepak bola Pro, gagal..
Appa dan Eomma tidak mau mengakui Hyoru sebagai cucu mereka, aku diusir dari rumah..
Usahaku menjadi seorang anak yang baik, gagal..
Appa dan Eomma-mu juga membenciku karena telah menodaimu.
Mereka memaksaku memberikan Hyoru, tapi aku menolak..
Keinginan menjadi seorang menantu, juga gagal..
Aku harus bagaimana, sayang??
Tidak ada lagi kau yang selalu menjadi tempatku bersandar kala rapuh..
Tidak ada lagi kau yang selalu memelukku dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Tidak ada lagi kau yang selalu mengecup pipiku dan menenangkanku dengan cinta..
Tidak ada lagi kau yang selalu tersenyum dan menyerukan semangat untukku..

———————————

–Flashback…

“Waey?” kau menghampiriku yang terduduk lemah dibawah pohon Cherry, tersenyum manis dan menyodorkan sekaleng kopi dingin..
Aku menerima kopi itu, lalu menengguknya.. “Mereka tidak mau mengerti..”
Melihatku yang ringkih dan kalut seperti itu, kau segera merengkuhku, menarikku kedalam pelukanmu. Kemudian, dengan santai menidurkan kepalaku dipahamu.. “Tenanglah sedikit, Jonghyun ahh..” kau berbisik lembut sambil membelasi rambutku..

“Saranghae…”

“Na Do, Jeongmal Saranghae…”

“Jagiya…” panggilku..

“Hemh?”

“Ingin tau sesuatu?”

Kau tersenyum, “Jika kau tak keberatan untuk bicara..”

“Mereka menentang… mereka tetap tidak setuju dengan hubungan kita..”

Aku sedikit cemas raut wajahmu akan berubah setelah mendengar itu. Tapi ternyata tidak. Bahkan tidak ada gerutuan atau helaan kecewa sama sekali. Yang kulihat, justru senyum ceria. Kau mengacak-acak rambutku sambil terus tertawa kecil..

“Hahaha.. Jadi? Kau masih memikirkan itu? Hahaha.. Ini kisah cinta kita, Jonghyun-ku. Biar kita yang rasakan. Biar kita yang jalani. Dan biar kita yang tentukan…”

–End of Flashback…

———————————

Aku merindukanmu. Rindu bermanja padamu. Rindu melihat senyummu. Rindu kau peluk. Rindu kau cintai. Aku benar-benar merindukan semua itu..
Dimana aku bisa mendapatkannya lagi, sayang? Dimana aku bisa merasakan semuanya lagi?
Perlahan terdengar rintik nyaring, seiring dengan suara tangisan Hyoru kecil berusia hampir setahun dari dalam kamar. Aku tidak peduli. Aku memilih berjalan kearah balkon, dan memandang keluar. Gerimis. Inikah saatnya? Untuk menemuimu disuatu tempat diatas pelangi??
Kulangkahkan kaki kananku menaiki pagar tembok balkon. Menarik nafas sejenak.. Menghirup udara bumi untuk yang terakhir kalinya. Aku akan menemuimu, Jagiya… aku akan…

“Someday I’ll wish upon a star….

And wake up where the clouds are far behind me..

Where troubles melt like lemon drops…

Away above the chimney tops..

That’s where you’ll find me..”

Sejenak aku terhenyak, kemudian menghentikan niatku untuk ikut menaikkan kaki kiri diatas pagar balkon. Lagu ini…. Over the Raibow. Lagu favoritku dan Yoora..

“Kau akan menemukannya, saat masalahmu hilang seperti tetes lemon yang meleleh..” suara itu menyadarkanku akan segalanya..

Aku menoleh.. “Seongrin??”

“Kau pikir Yoora akan senang?? Bodoh!!” ia mematikan lagu dari ponselnya, kemudian menarikku menjauh dari tepi balkon..

“Aku ingin bersamanya..”

“Bersamanya?? Di Surga??” Seongrin menatapku, tajam, “Tapi Yoora ingin kau menjaga Hyoru, kau tau itu kan, Kim Jonghyun?”

Aku menunduk, terdiam, tak berani menatap sorot mata tegas dari gadis itu. Hening sejenak dan aku baru menyadari bahwa suara tangis Hyoru sudah terhenti. Kim Hyoru. Ya, malaikat kecil kami, kenapa tadi aku bisa melupakannya?? Bodoh!!

“Kau baca pesannya kan? Dia memang memintamu menemuinya, tapi itu ‘kelak’, bukan sekarang Jonghyun ahh!! Kelak, saat Hyoru tak lagi menjadi tanggung jawabmu..”

***

–Seoul, 14 January 2006…
Dari suatu tempat diatas pelangi sana, apa kau melihat? Aku membesarkannya, Jagiya. Aku sudah merawat dan menjaganya dengan semampuku. Aku sudah menyayanginya seperti aku menyayangimu. Ya, dia, buah hati kita, Kim Hyoru. Gadis kecil itu sudah 6tahun sekarang, baru masuk sekolah, dan aku sedang mengajaknya berlibur di Jeju sekarang..

“Appa.. aku rindu Eomma..” rajuk Hyoru kecil diatas ayunan.

Aku menatap pelangi yang terlengkung indah menghiasi bukit. Ya, baru saja gerimis.. “Kau lihat? Eomma-mu disana.. diatas sana..”
“Diatas pelangi itu?”
Aku mengangguk.. “Disuatu tempat, diatas pelangi..”
“Kenapa Eomma disana?” Hyoru menatapku, penuh tanda tanya..
Kuusap rambut ikalnya yang lembut itu, lalu tersenyum, “Karena Eomma, adalah bidadari. Bidadari cantik yang selalu mengawasi Hyoru dan Appa dari atas sana..”
“Apa aku bisa bertemu Eomma lagi??” kali ini gadis kecil itu mendongak, tersenyum menatap pelangi yang perlahan mulai menghilang..
Tiba-tiba saja badanku terasa berkeringat, dingin. Kepalaku sedikit berat. Entah kenapa, kurasakan mataku juga memanas. Apa aku akan menangis? Akhh.. tidak sekarang. Seorang Appa tidak boleh menangis di depan anaknya, itu yang Donghae hyung selalu bilang…
“Appa??” panggil putriku itu..

“Hemh… Suatu saat, sayang… ditempat yang berbeda..” jawabku akhirnya.

Hyoru lalu memutar duduknya, kali ini menghadap kearahku yang sedari tadi tengah mendorong ayunannya, “Kalau bertemu Kakek dan nenek? Bagaimana?”
Sekali lagi aku diam. Rasa sakit itu, semakin menjalar ditubuhku, perih dan dingin. Tapi pertanyaan Hyoru membuatku semakin sesak lagi. Kakek? Nenek? Haruskah aku mengatakan tentang Kakek dan Nenek yang tidak menginginkannya? Atau tentang kakek dan Nenek yang ingin merebut dan memisahkannya dari sang ayah? Yoora ahh, aku harus jawab apa?

“Appa, gwaencha??” tegur Hyoru lagi, kali ini kurasakan cairan lembut mengalir dari pelupuk mataku secara tiba-tiba. Apa ini? Kenapa jadi menangis??
“Appa, Gwaencha?? Wajah Appa pucat. Mata Appa berdarah…”

***
–Seoul, 15 September 2015…
———-
“Jagiya… ayo yang lebar… aaaAAAA…” kau menyuapkan sup itu, sendok demi sendok setelah meniupnya dengan penuh cinta lebih dulu. Aku masih tergeletak dirumah sakit karena Maag..
“Huee.. jangan ini..” aku memuntahkan lagi labu kuning kedalam mangkuk yang kau pegang. Aku memang benci labu kuning, rasanya aneh..
“Ya!! Kau ini sedang sakit, jangan pilih-pilih makanan!!”
Aku mengerucutkan mulut, “Labu kuning tidak enak..”
“Lalu yang enak itu apa??” kau melotot sambil mencondongkan badan kearahku.
Dan, apa yang kulakukan?? Yeah, beraksi!! Dengan cepat aku segera menarik lehermu, menempelkan bibirmu di bibirku, lalu melumatnya, lama. Kau sedikit berontak, tapi agaknya sia-sia, aku terus menahan lehermu. Lidahku terus bermain, menjelajahi setiap rongga mulutmu hingga kemudian melepaskannya..
“Bibirmu.. manis… hehehe…” kusentil hidungmu, dan saat itu juga pipimu langsung menggembung merona. Perbaduan antara rasa kesal dan rasa malu. Hahaha…
“Dasar Appa genit…”
Mataku membulat, “What? Appa?”
“Ahh.. ani, ani, hanya melantur..” kau langsung salah tingkah. Waey? Rasanya ada yang aneh. Ada sesuatu yang kau sembunyikan. Aku merasakannya, jagiya..
“Mwora?”
Kau menggeleng, “Aniyo…”
“Lee Yoora, Kau sembunyikan sesuatu dariku?” desakku..
“Ani.. Ani…”
Kuputar mataku, sedikit berniat jail pada kekasihku sendiri, “Tidak mau mengaku nih?? Mau kucium lagi ya?? Yang lebih ganas??”

“ANDWAE!! INI RUMAH SAKIT!!”

———-
Tiba-tiba bayanganmu menjadi kabur. Samar-samar teriakanmu tak lagi terdengar. Kepalaku menjadi terasa lebih ringan. Gelap sejenak, kemudian aku menemukan lorong bercahaya. Kutemukan ujungnya, dan… kudapati diriku berada didalam ruang rawat Rumah Sakit..
“Appa.. Appa sudah sadar?” semburat senyum dari sesosok gadis manis menyambutku.
Kim Hyoru. Buah hati kita sudah 15tahun sekarang, Jagiya. Dia sudah besar, tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang ramah. Kau tau? Dia semakin mirip denganmu. Matanya memancarkan sorot kehangatan yang mendalam..
Kau tau kenapa aku disini, Jagiya? Di Rumah Sakit ini. Hampir setiap bulan disini. Kau ingin tau? Apa aku harus mengatakan padamu bahwa aku mengidap penyakit Fladiruc yang bisa menyerang dan melumpuhkan metabolism tubuhku kapan saja? Apa kau harus tau? Dan jika kau tau, apa kau akan menangis seperti Hyoru yang mengetahui ini 2 bulan yang lalu?

“Appa, minum dulu..” Hyoru membantuku duduk dibadan ranjang dan meminumkan segelas air putih beserta beberapa tablet obat.

“Appa harus minum obat!! jangan selalu membuangnya!! Appa pikir aku tidak tau?” samar, kudengar buah hati kita itu terisak..

Aku mendongak. Kulihat Hyoru menangis ringkih, menggenggam erat telapak tanganku yang pucat dan tak muda lagi itu. Mata coklatnya yang teduh terlihat sembab, bibir merahnya benar-benar basah, pundaknya naik turun karena terisak. Akhh.. dia tau Jagi, dia tau aku selalu membuang obat dari dokter.

“Hyo… Appa baik-baik saja..”

“Apanya yang baik-baik saja? Keadaan Appa makin memburuk dan bolak-balik rawat inap di Rumah Sakit, apa itu yang namanya baik-baik saja?” Hyoru menghambur kedalam pelukanku. Tangisnya lebih kencang dari tadi. Gadis kita ini, seolah kembali berusia 10tahun..

“Kau bawel sekali sih…” kucium puncak kepalanya dengan sayang..

Hyoru menyeka air matanya, “Kalau bukan aku, siapa lagi yang harus bawel? Seongrin ahjumma dan Donghae Ahjusshi ada di Mokpo. Dan Eomma tidak bisa mengomeli Appa dari atas pelangi kan?”

Aku terhenyak, mengingatmu lagi disuatu tempat diatas pelangi, “Over the Rainbow..”

“Aku tidak mau Appa juga pergi keatas pelangi..” Hyoru menggenggam tanganku lagi, makin erat, seolah tak mau melepaskannya, “Aku masih butuh Appa disini..”

Aku hanya bisa tersenyum sambil mengusap tangannya yang menggenggam erat tanganku. Appa juga menyayangi Hyoru, tapi jika Appa sudah tidak sanggup menahan penyakit ini lagi, bagaimana?? Kupejamkan mataku sejenak, dan kudengar lagu itu mengalun, lembut..

Somewhere over the rainbow, way up high..
There’s a land that I heard of once in a lullaby..
Somewhere over the rainbow, skies are blue..
And the dreams that you dare to dream really do come true.
Someday I’ll wish upon a star,
And wake up where the clouds are far behind me.
Where troubles melt like lemon drops
Away above the chimney tops
That’s where you’ll find me.
Somewhere over the rainbow blue birds fly
Birds fly over the rainbow why then, oh, why can’t I?
Why, oh, why can’t I?

***

–Seoul, 6 Agustus 2020…

Ketika Hyoru semakin tumbuh menjadi gadis yang dewasa dan penuh cinta…
Ketika aku semakin menyayangi buah hati kita itu setiap waktunya..
Ketika Appa dan Eomma akhirnya menerima Hyoru sebagai cucu mereka..
Ketika Appa dan Eomma-mu mau mengerti tentang kecerobohan kita dulu..
Ketika semua berjalan baik-baik saja sekarang…
Senyumku selalu terkembang belakangan ini. Kau tau bukan? Inilah saat yang kunantikan, Jagiya. Saat dimana masalah-masalah itu meleleh seperti tetes lemon diatas tungku perapian. Indah dan manis…

“Eomma, aku akan menikah dengan pria yang hebat seperti Appa. Lihat saja…”

Hyoru kecil 12 tahun yang lalu, mengatakannya sambil memandang fotomu dalam genggamannya. Aku, Donghae hyung dan Seongrin terkikik saat itu. Bisa kau bayangkan bukan? Ucapan polos dari seorang gadis kecil berusia 8 tahun.

“Appa, aku mencintainya, pria itu….”
7 tahun kemudian, ia bercerita padaku tentang seseorang yang telah mencuri hatinya. Aku begitu bahagia melihatnya bersinar karena jatuh cinta. Aku bahagia melihatnya mulai centil dan sering berdandan sebelum kencan. Tingkahnya benar-benar persis sepertimu. Membuatku teringat masa-masa kita dulu. Kau juga merindukannya bukan?

“Dia melamarku, Appa. Kami akan menikah…”

Dan minggu lalu, saat usianya genap 20tahun, ia menyampaikan kabar gembira itu padaku dengan wajah tersipu malu. Kau tau betapa aku sangat bahagia kala itu? Kau tau betapa erat aku memeluknya walau tubuhku tergeletak di ranjang Rumah Sakit? Kau tau betapa aku menangis haru melihat buah hati kita ini akan menjadi seorang istri?

“Kim Jonghyun, kau tampan sekali…” komentar sebuah suara..

Aku menoleh, seorang wanita berdiri di ambang pintu kamar. Seongrin, dengan balutan gaun raisun putih yang membuatnya terlihat lebih muda.. “Benar-benar tampan untuk ukuran lelaki berusia 42 tahun yang sebentar lagi akan mempunyai menantu..” pujinya lagi.
“Menantuku, Lee Hyojin, jauh lebih tampan..” tanggapku. Dan sahabatmu itu hanya terkikik, mungkin dia senang sekali karena anaknya ku puji barusan..

“Jagi, kau sedang apa? Dan… Kau.. Jonghyun, kenapa masih disini? Ayo berangkat ke Gereja, pernikahan anak-anak kita akan dimulai setengah jam lagi..” Donghae hyung muncul tak lama kemudian. Dengan setelan tuxedo hitam, ia tampak lebih muda 10tahun dari usia aslinya..

“Ne, sebentar, kurapikan dasi dulu…” sahutku.

Tapi Donghae hyung seperti tak peduli, ia segera menghampiriku, dan mendorong kursi rodaku dengan paksa, “Sudah siap berbesan dengan kami kan, Kim Jonghyun??”

Ya, Jagiya. Hyoru menikah dengan Hyojin hari ini. Kau tau Hyojin? Lee Hyojin, putra Seongrin dan Donghae hyung. Aku sendiri tidak pernah menyangka bisa berbesan dengan mereka. Tapi inilah takdir. Takdir yang tak pernah bisa kita tebak alurnya. Dan.. dari suatu tempat diatas pelangi sana, kau akan mendoakan pernikahan putri kita bukan?

‘Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk putri kita, Yeobo…’

Entah hanya sebuah ilusi, atau malah kenyataan yang ajaib. Tapi aku seolah bisa mendengar suaramu itu, berbisik lembut ditelingaku, tersampaikan oleh hembus angin. Terimakasih, Lee Yoora…

***

–Seoul, 27 September 2020…

Aku terdiam sendiri dirumah, duduk diatas kursi roda sambil menatap hujan diluar jendela. Kau ingin tau sesuatu, Lee Yoora? Hyoru dan Jonghyun sedang menikmati bulan madu mereka di Tokyo. Sedikitnya aku iri, kita belum pernah menikmati bulan madu bukan? Bahkan menikah pun tidak..

“Aku merindukanmu, Jagiya…” bisikku, apa kau dengar?

Sedetik, dua detik, tiga detik. Mulanya semua baik-baik saja. Hingga kemudian rasa sakit itu dating tiba-tiba. Menyerang seluruh syaraf dalam tubuhku. Meninggalkan nyeri yang teramat sangat di kaki lumpuhku. Meninggalkan pening yang begitu menyiksa dikepalaku. Meninggalkan cekikan perih di tenggorokanku. Sakit.. Sakit sekali…

‘Obatmu, Yeobo. Obatmu….’

Lagi-lagi, aku mendengar suaramu yang berbisik lembut dari sana, dari suatu tempat diatas pelangi. Dengan sisa kesadaran, aku mendorong kursi rodaku ke dekat ranjang, berusaha meraih obat diatas rak yang sedikit tinggi, tapi…

GUBBBRRagggg…’

Tapi aku justru terjatuh, tersungkur. Kepalaku membentur lantai dengan keras, tubuhku tertindih kursi roda. Samar, kulihat darah mengucur di sekitar kepalaku, pekat. Aku benar-benar tidak kuat lagi, Jagi. Aku pikir itu saat terakhirku untuk hidup di dunia ini…

“YA TUHAN!! JONGHYUN!!”

Dan detik berikutnya, semua terlihat gelap, terasa dingin dan ringan. Aku seolah tengah berjalan menyusuri koridor-koridor luas yang hitam dan lembab. Panjang sekali, dan lama. Hingga kemudian aku menemukan sebuah cahaya, lalu terbangun..

“Jonghyun ahh, Gwaencha?” sembarut wajah Donghae hyung menyambutku dengan senyuman. Aku menatap sekeliling, Rumah Sakit. Sama seperti sebelum-sebelumnya. Seoul Hospital seolah sudah menjadi rumah kedua bagiku selama 5 tahun ini.

Aku baik-baik saja Hyung, terimakasih…’ jawabku.

Tapi… Tidak!! Suara?? Dimana suaraku?? Kenapa suaraku tidak terdengar? Kenapa aku hanya bisa bergumam tanpa suara?? Demi Tuhan Lee Yoora, aku takut sekali saat ini. Aku mencoba berteriak dan mengatakan hal-hal lain, tapi suaraku tetap tak terdengar..

Aku menyerah. Inilah yang sudah terjadi. Apa aku bisu sekarang? Setelah menyerang kakiku, apa penyakit itu juga menyerang pita suaraku sekarang?? Damn… kau tau yang paling aku takutkan saat ini, Lee Yoora? Bukan kebisuan ini, tapi kepedihan Hyoru saat nanti ia mengetahui Appa-nya bisu..

“Jonghyun ahh, kau kenapa? Ada masalah? Perlu ku panggilkan Dokter?” Donghae hyung terlihat panik dan hendak keluar memanggil dokter, tapi kutahan lengannya..

Aku tersenyum, lalu menggeleng, mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Dan kurasa ia cukup mengerti dengan itu. Donghae hyung kembali duduk disamping ranjang, menatapku dengan pandangan pilu..

“Kau baik-baik saja kan? Katakanlah sesuatu, Jonghyun ahh…”

Aku baik-baik saja Hyung, sungguh. Aku akan selalu baik-baik saja selama Yoora ada didalam hatiku. Aku akan selalu baik-baik saja selama Hyoru juga baik-baik saja. Aku ingin mengatakan 3 kalimat itu Hyung, sungguh. Andai aku mampu…

***

–Seoul, 30 September 2020…
Aku mendorong kursi rodaku sendiri ke dekat danau Rumah Sakit. Kemudian mendongak. Menatap langit biru yang tampak begitu bersih sekilas. Tenang sekali rasanya, begitu nyaman. Masalah meleleh bagai tetes lemon, diatas hangat tungku perapian. Harapan pada bintang terkabul, awan berada dibelakangku, mengejar langit..

Hemh.. Dari suatu tempat diatas pelangi, kau lihat Jagiya? Hyoru lepas dari tanganku, lepas dari tanggung jawabku. Kim Hyoru. Buah hati kita, gadis kecil kita yang kini sudah tumbuh dewasa… punya hidupnya sendiri sekarang..

Bagaimana? Aku dengan siapa?? Aku tidak mungkin terus membebani Hyoru dan Hyojin. Juga tidak mungkin terus bergantung pada Seongrin dan Donghae. Jadi? Bolehkah aku menyusulmu sekarang??

‘Tikkk… Tikk…. Tikk…’
Gerimis…
Saat muncul pelangi nanti, bolehkah aku naik?? Bolehkah aku terbang keatasnya? Bolehkah aku menemuimu sekarang, Lee Yoora?? Bolehkah kita bersama lagi??

Kuambil sesuatu dari dalam saku mantelku. Sebuah kertas prem yang sudah usang. Kertas yang kusimpan baik-baik selama 20tahun ini. Kertas yang selalu kujaga sebisa mungkin walau dengan jemari-jemari yang mulai mengeriput ini..
“Kelak… temui aku kala gerimis..

Disuatu tempat diatas pelangi…”

Aku tersenyum, melipatnya lagi, lalu kembali mendongak kelangit, membiarkan tubuhku diguyur oleh rintikan gerimis secara perlahan. Dan tak lama kemudian, aku melihatnya, Pelangi… “Inikah saatnya aku menemui disana? Disuatu tempat diatas pelangi?”

Kutatap pelangi itu dibalik teduh. Kepalaku pening, seperti ditusuk ribuan jarum. Jantungku berdetak tak normal. Paru-paruku sesak. Sakit, benar-benar sakit. Tapi sakit ini justru terasa hangat, entah kenapa. Mungkin karena ini adalah sakit yang akan membawaku kepada kebahagiaan diatas pelangi.

Ya, disuatu tempat di atas pelangi. Somewhere Over the Rainbow. Aku akan terbang kelangit dan naik keatas pelangi. Kau menungguku disana kan? Bidadariku??
Mataku terpejam perlahan…
Kepalaku semakin pening, tapi beberapa detik kemudian sesuatu seseolah merebut semua penatku, melepasnya, membuangnya..
“APPA!!!!”

Samar, aku masih bisa mendengar suara pekikkan panik Hyoru, dan saat kubuka mata, aku sudah terbang. Sesosok malaikat membawaku menaiki tangga berwarna Jingga, tangga menuju suatu tempat diatas pelangi..
Dan dari atas, aku bisa melihat jasadku sendiri, tersenyum tenang, diantara gerimis, dengan dekapan hangat Hyoru di pundakku…

***
–Somewhere, Over the Raibow. Forever…

Hey… aku melihatmu. Kau cantik. Cantik sekali. Bahkan jauh lebih cantik dari 22tahun yang lalu di bumi. Lee Yoora. Kulihat kau berlarian disekitar taman bunga, mengejar capung dan kupu-kupu cantik yang berterbangan disekelilingmu, seolah memuja..
“Masih ingat aku??” Kurengkuh pinggangmu dari belakang..

Kau menoleh, “Maaf, aku lupa…”
Kata-kata itu benar-benar membuatku lemas. 22tahun aku menunggu untuk menemuimu disini, disuatu tempat diatas pelangi, dan sekarang kau lupa?? Kulepaskan pelukanku dari pinggangnya, dan tersenyum getir, hendak berlalu hingga tiba-tiba…

“Chhuuu….” Kau menarik leherku dan memberikan sebuah kecupan manis dibibirku. Ciuman lembut yang kurindukan sejak dulu. Membuatku terhenyak..
“Aku lupa. Aku lupa kalau aku tak pernah bisa melupakanmu, Kim Jonghyun..” kau tersenyum jail dan segera berlari menjauh sebelum aku sempat menyentil hidungmu..

“LEE YOORA, SARANGHAE!!” Teriakku sambil segera mengejarmu..

Lalu kau hanya tertawa sambil menjulurkan lidahmu, terus berlari. Berlari dengan anggun dan ceria. Berlari memintaku menangkapmu. Berlari, melintasi semua tempat diatas pelangi. Melintasi merah, mengerjap jingga, menapak kuning, hingga mengarum ungu…

Aku melihatmu, bidadariku..

Kini aku sudah menemuimu, kala gerimis, di suatu tempat diatas pelangi..

11 Tanggapan to “OneShot FF : Over The Rainbow”

  1. Tae-ah Maret 30, 2011 pada 11:28 am #

    Keren author .. Sedih sih awalnya , tpi keren ..

  2. hyunickjunhaemax Maret 30, 2011 pada 1:24 pm #

    nangis satu ember bih author!! :’ 1000x
    keren!!

  3. Nai Maret 30, 2011 pada 1:28 pm #

    Ya ampun.!
    Sumpah deh ni ff keren banget..
    Daebak.!

  4. 6002TheMinnie Maret 30, 2011 pada 3:16 pm #

    Sumpah jujur ini keren banget…..
    Sedih tpi bahagia,,,
    Aaahh jonghyun oppa tabah banget….ckck

  5. hyoheeauthor Maret 31, 2011 pada 6:09 am #

    Yoora,nih jjong kasian ye. . . . .blng ma Asri Eonni,ffnya keren gila.🙂

  6. Nuri Maret 31, 2011 pada 7:04 am #

    Kereeeeeeeeen FF nya (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

  7. Lindaratu April 1, 2011 pada 3:40 pm #

    Tearing :’)
    kasih epilogny dong .
    Pengen tau reaksi anakny si jonghyun .

  8. tyspevensie April 1, 2011 pada 3:41 pm #

    woaaah~ bagus banget ><
    daebak thor !!
    keren banget ~ aku suka😄

  9. soohaeyun April 2, 2011 pada 1:32 am #

    baru bangun tidur langsung baca nie ff
    sumpah bkin bantal aku basah ma air mata
    hayo author tanggung jawab aku sampai banjir air mata baca ff ini sumpah sedih dan mengharukan
    hiks….hiks….

    akhirnya setelah 20 tahun mereka bertemu juga
    dan sesuai janjinya jong menemui yoora.
    sesuai amanah Yoora
    Kelak… temui aku kala gerimis..
    Disuatu tempat diatas pelangi…

    ackhhh keren pas baca judulnya langsung inget ma lagunya
    over the rainbow khan salah satu lagu fav q loh*g da yg nanya
    hehhehehehe
    ech ternyata benar nie kisah berkaian dengan lagu fav q
    jd seneng
    ehheheheheh

  10. hyorimindi April 4, 2011 pada 4:45 am #

    ff nya keren..
    aku nyampe nangis bacanya..
    daebak dech authornya..

  11. Lynn Ryashkie Agustus 2, 2011 pada 6:48 am #

    FFnya kereenn bgt chinguu….
    mantap!!^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: