WHEN THE DEVIL IN LOVE

5 Mar

Title :: WHEN THE DEVIL IN LOVE.
Author :: Me. ( Rahmi hayati siregar / Lee young mi )
Genre :: Sadistic romanca (maybe?? Hehe)

Rating :: PG-15
Disclaimer :: DON’T be a PLAGIATOR!!
Cast :: Kim Young woon / Kang in ( Superjunior) , Choi Jun hae ( marsha ) , Choi shiwon ( Superjunior )

Cinta itu aneh. Kadang kau harus berlari, menangis…bahkan membunuh demi mencinta. Mereka bilang demi perdamaian, dunia manusia harus punya cinta, tapi mengapa ada begitu kejadian saling melenyapkan yang terjadi atas nama cinta? Lantas…Bila baginya cinta adalah memiliki, salahkah? Bila kau harus mencintai orang tidak baik, salahkah? Apa cinta hanya untuk orang baik? Cintanya sempurna meski dia berhati setan!!!!

Choi jun hae mengenal Kim young woon tiga bulan yang lalu. Hari itu hujan lebat dan Junhae lupa membawa payung. Meski kantornya dan halte busway tidak berjarak terlalu jauh, tetap saja dia harus melewati derasnya hujan untuk bisa sampai kesana. Dan Junhae harus cepat-cepat sampai ke rumah, hari ini ulangtahun Choi shiwon, kakaknya. Dia harus sudah sampai di rumah sebelum Shiwon pulang.
Choi jun hae akhirnya memilih untuk menentang hujan. Dia berlari begitu saja menuju halte. Tidak ada payung. Dia hanya melindungi kepalanya dengan tangannya. Sama sekali tidak membantu.
Junhae baru mulai duduk ketika sebuah suara mengagetkannya. Suara jepretan kamera. Dia menoleh marah pada orang iseng yang baru saja bertindak seenaknya memotret dirinya. Tapi semua kemarahan Jun hae lenyap saat orang itu menurunkan kameranya, lalu tersenyum. Orang itu berjalan menghampiri Junhae, lalu mengulurkan tangannya…
“ Kim Young woon imnida.”
Suaranya lembut tapi tegas. Sorot matanya tajam dan sedikit membuat orang lain tidak nyaman.
“ Choi junh hae…imnida.”
Junhae menyambut uluran tangan itu tanpa firasat apa-apa. Mata pria itu sudah terlanjur mengalihkan pikirannya dari prasangka apapun.

Tak ada yang aneh dari Kim Young woon. Dia baik, kadang malah terlalu baik. Dia perhatian. Dia hanya susah di tebak. Pernah sekali saat Young woon menelponnya, Jun hae mengatakan dia belum makan malam karena di rumanya tidak ada makanan apapun. Young woon menutup teleponnya begitu saja. Sepuluh menit kemudian Shiwon mengetuk pintu kamar Junhae dan mengatakan bahwa barusan Young woon datang mengantarkan makanan untuknya.
Dan bagaimana mungkin Junhae bisa menolak pria seperti itu?! Jadi dia mengangguk optimis saat beberapa hari kemudian Kim Young woon bertanya apakah dia mau menjadi pacar pria itu.

“ Junhae ya…kau tidak merasa ada yang aneh pada anak itu?” Tanya Shiwon dengan nada serius.
“ Aneh bagaimana?” Tanya junhae balik, sambil menekan remote tv mencari-cari channel yang menampilkan acara yang menarik baginya.
“ Dia tau segala sesuatu tentangmu. Dia tau latar belakang keluargamu, dia hafal sekolahmu dari kau SD, dia bahkan tau berapa kali kau jadi juara kelas selama kau sekolah. Dia juga tau letak semua barang di kamarmu. Sementara kau, kau tidak tau apa-aoa tentangnya. Apa itu tidak aneh?”
“ Apanya yang aneh? Aku memang memberi taunya semua itu kan?”
“ Tapi cowok normal tidak akan menghapal semua itu, Junhae!! Kau bilang dia bahkan hafal pidato ketua osis pertama mu di SMA, padahal kau hanya memperlihatkan nya karena iseng. Dan tiba-tiba saja dia mengapalkan itu semua di luar kepala.”
Junhae terdiam. Sebenarnya sudah lama dia merasakan keganjilan itu. Kakaknya benar, dia memang tidak tau apa-apa tentang kekasihnya itu. Semua hal yang diketahuinya hanya samar-samar. Dia tau kekasihnya bekerja sebagai Photographer, hanya itu. Dia tidak tau tempat tinggalnya, dimana orangtuanya, dimana dia dulu sekolah, dan banyak lagi hal lain yang tidak di ketahuinya.
“ Dia baik. “ Ujar Junhae.
Shiwon menatap adiknya, dia juga tau laki-laki itu baik. Masalahnya sikap terlalu baiknya itulah yang membuat Shiwon merasa aneh. Ya, mungkin memang itu hanya perasaan nya saja.
“ Ngomong-ngomong, temanmu si Sung min itu bagaimana? Sudah masuk kerja?”
“ Ani….Tidak ada yang tau dia pergi kemana. Keluarganya juga tidak tau.”
“ Aneh~”
Junhae mengangguk.” Bukan hanya dia, oppa tau kim ki bum? Teman sekantor ku juga. Dia juga sudah seminggu tidak masuk.”

Keesokan harinya…
“ Oppa, aku ingin main ke tempatmu hari ini.” Ujar Junhae.
“ Kenapa?”
“ Kita sudah pacaran dua bulan, aku kan juga mau tau tempat tinggal pacarku.”
Young woon mengedikkan bahu. “ Baiklah…”
“ Jinja?”
Junhae tersenyum lalu memeluk Young woon. Senyum itu….Kim Young woon bersumpah rela melakukan apa saja demi menjadi pemilik satu-satunya.

Sampai di apartemen Young woon, Junhae tidak merasa ada apapun yang aneh. Semuanya normal. Apartemen nya mewah dan tertata dengan sangat rapi. Semuanya normal. Dalam hati Junhae mulai merasa kecurigaannya berlebihan.
Tiba-tiba saja Junhae merasa seperti ada yang aneh di….euwww….jangan-jangan.
“ Oppa, boleh aku ke kamar mandi?”
Young woon sedang menyiapkan beberapa cemilan kecil di dapur. “ Kau lihat pintu kamar di samping living room itu, masuk saja ke dalam. Itu kamarku. Pakai kamar mandi disitu saja.”
Junhae langsung melangkah kesana tanpa pikir panjang. Ternyata dugaan nya benar….Diam-diam menyesal kenapa tidak membawa persediaan dari rumah tadi.
“ Jagiya…gwenchana?” Young woon sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
Junhae membuka pintu dengan ekspresi bingung. “ Oppa…ottokhaji?”
“Waeyo? Appo?” Ekspersi wajah Young woon langsung berubah khawatir.
“ Aku…nggg….”
Junhae menggigit bibirnya. Bagaimana sih caranya mengatakan pada pacarmu kalau kau mendadak mesntruasi dan kau tidak punya pembalut? Junhae bingung.
“ Aku….nngg…”
Junhae baru berani mengatakan yang sebenarnya lima menit kemudian, itu juga setelah Young woon benar-benar memaksanya. Young woon akhirnya keluar untuk membeli ‘benda’ yang dibutuhkan Junhae. Dia benar-benar baik.
Sepeninggal Young woon, Junhae menatap sekeliling kamar. Sepertinya Kim young woon tidak terlalu suka memajang hasil karya fotografi nya. Tidak ada satu foto pun disini. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah pintu lain di sisi kamar. Pintu itu seperti terhubung ke ruangan lain. Mungkin itu kamar gelap yang biasa di gunakan para fotografer untuk mencetak foto mereka.
Junhae pun melangkah kesana. Benar saja. Disana benar-benar gelap, dan ada banyak foto di gantung. Seperti melihat jemuran foto saja. Junhae mulai merasa canggung, semua foto memiliki objek yang sama. Yaitu…dirinya. Anehnya, foto ini sepertinya diambil saat mereka belum pacaran.
Lalu seakan semua ini belum cukup membuat nya canggung, matanya kini menangkap sebuah pintu lagi. Sebenarnya bukan pintu, itu hanya semacam space di dinding yang dibentuk seperti pintu…penghubung ke ruangan lain.
Junhae melangkah pelan menuju tempat itu. Dia tidak terlalu mengerti fungsi ruangan itu. Tepat di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah benda yang mirip tempat tidur yang biasa di gunakan di ruangan pembedahan di rumah sakit. Ada beberapa botol berisi cairan di lantai. Tidak ada satupun yang dikenali Junhae. Dia mengalihkan pandangan ke sisi lain ruangan. Ada tiga buah box besar disana. Mirip kotak-kotak berisi balok es yang biasa di gunakan di pasar ikan. Semacam itulah. Junhae lalu mendekat.
Ragu-ragu di bukanya kotak itu.
Box pertama kosong.
Tangannya lalu bergerak membuka box yang kedua. Nafasnya mulai terasa berat melihat sebuah pelastik hitam besar yang terikat rapat ada didalam box itu. Setelah mengumpulkan segenap sisa keberaniannya, Junhae meraih pisau besar yang terdapat di sisi tempat tidur tadi. Dia berusaha mengendalikan getaran ketakutan pada tangannya saat membuka tali pengikat plastic besar itu.
Butuh waktu cukup lama.
Saat tali itu berhasil di potong, Junhae melebarkan bagian plastic itu untuk dapat melihat isinya.
Dan dia sejenak dia benar-benar lupa caranya bernafas saat tau isi plastic itu. Meski perutnya mual, dia memaksakan diri untuk membuka box ketiga. Plastik yang sama ada disana, persis seperti box kedua. Dan Junhae merasa tidak perlu membuka talinya lagi untuk tau isi plastic itu.
Itu…manusia. Secepat kilat dia berusaha keluar dari ruangan itu. Tangannya bergerak meraih handphone di kantong jeans nya. Dia menekan angka 2, speed dial untuk Shiwon. Tapi belum sempat bicara, handphone itu terjatuh. Kim Young woon ada disana, menatapnya tajam. Junhae terhenyak, kakinya lemas.
“ Keluarlah…” Ujar Young woon pelan. Dia sudah mengalihkan pandangannya sekarang. Matanya menatap lantai, Junhae tak tau apa yang dipikirkannya. Yang jelas apapun itu, ada dua mayat disana. Dan satu box kosong itu bisa saja disiapkan untuk dirinya.
“ Keluarlah….Kita bicara diluar.” Ujar Young woon lagi. Kali ini suaranya lebih pelan.
Junhae melangkah pelan dan perlahan. Dia takut. Sangat takut.
Kim young woon duduk disisi tempat tidurnya. Dia tak berani lagi menatap gadis itu. Dia tau gadis itu ketakutan. Dia benar-benar ingin memeluknya dan mengatakan semuanya baik-baik saja, tapi bagaimana mungkin….bila ternyata sumber semua ketakutan itu adalah dirinya. Kim young woon mengacak-acak rambutnya putus asa. Seharusnya tidak seperti ini. Tapi mungkin memang beginilah takdir yang di gariskan untuknya. Lagi-lagi harus kehilangan…
“ Mereka temanmu, Sungmin dan Kibum.” Tak alasan lagi untuk tidak mengungkapkan kebenaran. Sudah terlanjur basah. Choi jun hae pasti sudah jijiknya padanya sekarang, jadi kenapa tidak sekalian saja dia bongkar semuanya.
Young woon tidak punya keberanian lagi untuk menatap gadis itu. Dia tidak ingin melihat semburat ketakutan dan kekecewaan di matanya. Dia…dia hanya ingin mati. Yah~mati mungkin lebih baik.
“ Aku tidak bisa melihat mereka menatap mu seperti itu. Menggodamu. Aku tidak tahan melihat ada orang lain yang juga menyukaimu. Aku takut…takut kau mempertimbangkan mereka sebagai alasan untuk meninggalkanku.”
Choi Junhae hanya diam.
“ Mian…”

Choi Jun hae setengah mati menekan perasaan simpatinya. Laki-laki itu pembunuh. Dia tidak pantas untuk merasakan simpati apapun.
“ Kau….kau membunuh mereka karena ku?”
“ Tidak. Itu bukan salahmu. Perasaanku lah yang salah. Bukan salahmu. Semua salahku…”
Suara Kim young woon mulai bergetar. Dia menangis.
“ Mianhae….jeongmal mianhae….”
Pertahanan Junhae runtuh. Dia tidak tahan melihat Kim young woon seperti itu. Laki-laki yang selalu kuat dimatanya, yang selalu melakukan apa saja yang dia minta, dia benar-benar tidak kuat melihat nya memohon maaf seperti itu. Dan junhae tidak peduli lagi apakah dia pembunuh atau bukan. Dia berjalan mendekati Young woon, menarik nya kepelukannya.
“ Gwenchana oppa. Gwenchana….”
Air mata Junhae jatuh perlahan. Dia memeluk Young woon semakin erat. Dan terus berkata semuanya baik-baik saja.
Mereka terus seperti itu, sampai beberapa saat kemudian bel berbunyi. Junhae tersentak. Itu pasti Shiwon. Bagaimana ini? Dia pasti sudah melacaknya dengan GPS. Junhae buru-buru berlari pintu untuk melihat ada siapa diluar sana. Dugaannya benar, Choi shiwon lah yang memencet bel…di temani beberapa orang polisi.
Junhae kembali ke tempat young woon dengan wajah pucat.
“ Oppa…kha…pergilah. Kau harus pergi oppa…pergi…”
Junhae histeris. Kim young woon tersenyum menatapnya. Dia lalu berdiri dan berjalan mengambil sesuatu. Sebuah buku. Semacam buku harian mungkin.
“ Ini…ambillah…Semuanya ada disitu. Aku mau kau mebacanya. Mian….”
Junhae tertunduk lemas. “ Aniya oppa…pergilah. Khaa!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak Junhae.
Young woon memeluk Junhae erat, lalu mengecup bibirnya pelan.
“ Kim yong woon!!!!!! Aku tau kau di dalam!! Buka pintu nya!!!!!!!”
Shiwon berteriak diluar sana.
Young woon melepaskan pelukannya. “ Saranghae….”
BRAKKK!! Pintu terbuka. Dan ini akhir semuanya.

Beberapa hari kemudian…
Junhae menatap televise di depannya tanpa ekspresi. Di sampingnya, Choi shiwon menatap adiknya nanar. Sementara mereka tenggelam dengan jalan pikirannya masing-masing, televise itu terus berusara.
Pelaku pembunuhan dua karyawan Hans Corp berhasil di temukan. Pelaku diketahui bernama Kim Young woon. Setelah ditelusuri, pelaku di duga juga merupakan pembunuh Kim Joon Ha yang tidak lain adalah ayahnya. Belum diputuskan hukuman apa yang akan diberikan untuk pria yang di duga memmiliki gangguan mental ini. Untuk sementara, polisi akan berusaha menyelidiki kasusnya lebih jauh.

21 Agustus 2005
Aku membunuhnya. Pria itu menyakiti ibuku. Dia bukan ayahku. Aku membunuhnya.

08 Desember 2005
Aku tidak akan mengunjungi ibu lagi. Lebih baik begini.

11 Desember 2007
Aku melihat gadis itu menari-nari di taman, tersenyum sambil berusaha menyentuh satu persatu salju yang turun. Aku jatuh cinta.

08 January 2008.
Aku benar-benar suka gadis itu. Aku suka caranya tersenyum. Aku suka caranya tertawa. Aku suka caranya menatap langit. Aku suka caranya bicara. Aku sudah punya semuanya sekarang. Tapi kurasa aku harus memotret lebih banyak lagi.

13 Maret 2008
Namanya Choi Jun hae.

10 Mei 2008
Dia bilang dia mau. Dia bilang dia mau jadi kekasihku. Dia bilang dia mau jadi kekasihku. Sekarang dia kekasihku.

20 Mei 2008
Aku tidak suka dia bicara dengan pria itu, juga pria itu. Mereka tidak boleh…mendekatinya! Mereka akan menyakitinya.
31 Mei 2008
Aku membunuh nya. Aku tidak mau dia menyakiti kekasihku. Aku tidak tahan untuk tidak melakukannya.

16 Juni 2008
Aku membunuh pria itu juga. Aku pembunuh. Tapi ini tidak salah. Aku membunuhnya untuk melindungi Junhae. Aku harus membunuhnya.

End.

 

 

 

minta coment ya chingu… ^^ gomawo dah baca.. ^^

8 Tanggapan to “WHEN THE DEVIL IN LOVE”

  1. otophed Maret 5, 2011 pada 7:45 am #

    Waw. . . .nice ff. . . .daebak! Keren dah. . . . . . . .s0 sweet~🙂

  2. yoohaeteukii Maret 5, 2011 pada 12:12 pm #

    daebak!!
    wlwpun sadis,tp salut bgd ma bang yesung..setia bgd jd namja ><
    nice ff,.

  3. taeminyeoja Maret 5, 2011 pada 12:16 pm #

    daebak,, keren ff-nya chingu..
    sadis bgt ya.. ^^

  4. taemtaem Maret 5, 2011 pada 12:33 pm #

    Kang In gak normal,,
    segitu cinta kah dia sama Jun hae sampe2 ngebunuh org
    nice FF🙂

  5. young0896 Maret 6, 2011 pada 10:31 pm #

    huuaa.. nice ff..
    kren bgt.. wlopun sadis tp daebak hehe

  6. ami Maret 8, 2011 pada 8:49 am #

    hehe, gomawoyo….^^

    btw, itu bukan yesung (nunjuk alah satu komen), hehe….kang in, chingu.

  7. Lia Maret 14, 2011 pada 10:44 am #

    wih ngeri…
    Pembunuhan yg tragiss….
    Nice FF

  8. Kang hyun seok Mei 19, 2011 pada 6:36 am #

    Ffnya Bagus! Daebak! Tp ko ending nya rada ngegantung ya? Hehe ._.v tp bgus ko!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: